My Blue Thunder Heart’s BLOG

Dan aku merasa seperti takut melangkah,Tidak! Bukan karena gerimis menari nari di sore hari.Tidak.Bukan kesan yang indah saat aku tak bisa melangkah saat ini.
Kerana diantara gerimis hujan itu aku merasa ada sesak yang harus terlontar diujung nafas ini. an sekali lagi aku merasa tak bisa melangkah.Maaf,bukan karena hujan datang menjemput ajal. Bukan juga nafas yang tersengal, janji terucap diujung hujan yang datang di sore pukul setengah enam.Saat mata berdebu,pelipisnya mengatup perih.

sketsa liar diujung sore yang menghujan bergelimpangan lepas, bekasi-pondog gede merindu maret 2016

Dan cinta di bulan penuh cinta

Aku ingin engkau mengerti akan kehadiranku duhai, kekasih abadiku, kaulah buluh rindu yang terus menerus menyulam di setiap waktu. Aku ingin kau tahu sepanjang perjalanan hidupku aku akan berusaha mencintaimu dengan amat sangat apa adanya dirimu dan cintamu, duhai pelepas penatku.  sekian lamanya aku berkutat di pelepah pekerjaanku sampai sampai aku lupa bahwa ada dirimu yang harus ku perkosa waktunya dan harus meniduri jam jam kebersamaan kita..duh! alangkah bodohnya aku ya, sayangku, selama ini aku justru memerkosa waktu kerjaku berhari hari dan meniduri kesibukkanku hingga airmataku menetes kelelahan. Padahal, kamu sedang menantiku dengan begitu amat sangatnya merindu dendam.

Kekasih setiaku….

pencapaianku untuk memilikimu amatlah penuh rintangan ya? kesabaran yang telah ku tanam dibelahan lautan  hati kita seperti gelombang yang menghantam batu ujian, banyak riaknya ya,dinda? namun aku percaya  kita bisa melaluinya dengan perasaan senang. Aku mau akulah orang yang selalu kamu lihat saat kamu terbangun dari tidurmu. Aku mau akulah yang bisa menjadi nahkoda dalam melayari perahu pernikahan kita ini. Aku mau aku akan tetap duduk berdekatan denganmu dalam mengasah wangi dari aroma kembang cobaan ini,ya? Dan akulah yang akan terpaku menatap langit keabadian cinta kasih kita di ujung kesucian ini.

Selamanya cintaku….

coba kamu dengar apa jawabku saat hendak memutuskan untuk memilihmu, duhai sang rinduku? demi matahari, rembulan, serta keheningan malam malamnya; aku adalah alam bagi niat mulia kita. Akulah bumi bagi pijakkan angan kita. Akulah awan untuk pelindung sayang kita.

rekatlah tali kesetiaan ini duhai sang kekasih yang memiliki aura.sampai kita berada di persimpangan akhir waktu. jagalah buah kasih kita,ya?

Menatap indahnya senyuman di wajahmu………………menanti akan hadirnya cinta terindah………….

Dan cinta ini pun…………..

Karya : RUDYANTO BACHTIAR

Episode 1

Pagi adalah sebuah kesenangan untuk Aurel. Karena pagi selalu membuatnya merasa seperti memiliki dan dimiliki oleh keluarga besarnya. Bagi Raehan, suami tercintanya. Kekasih yang sudah sembilan tahun selalu berada disisinya. Saat dia sedih,gembira ataupun sedang galau. Bagi Aurel. Bersama Raehan hidupnya menjadi penuh warna.
Lalu ada Maryda serta Bramestya. Dua anak mereka berdua. Yang masih berusia enam juga empat tahun itu. Yang selalu bisa menghilangkan penat atas rutinitas pekerjaan di kantor. Keceriaan yang selalu bisa memberikan rasa beda atas sisa waktunya di kantor. Kebahagiaan serta kebersamaan yang selalu di ciptakan bersama sang suami dan juga keluarganya. Kebahagiaan yang tak akan pernah ingin dia lepaskan dan dilupakan.
Dan Pagi merupakan sebuah kebahagiaan yang teramat manis untuk dirasakan oleh Aurel. Karena dia bisa menyiapkan segala keperluan bagi suaminya dan juga keperluan sekolah anak anaknya. Menyediakan secangkir kopi untuk Raehan, suami tercinta, dan juga menyediakan secangkir susu untuk kedua anak anaknya.
Sebab bagi Aurel. Pagi selalu memberi ruang yang luas untuk dirasakan kebahagiaan jiwa dan hatinya. Karena Pagi sangat indah. Pagi adalah awal untuk menyambut hari baru.

*****

Sampai suatu hari kebahagiaannya terusik ketika ia tak sengaja bertemu dengan Ali Hendyana Rahaja. Model dan bintang film yang saat ini menjadi the best di ibu kota. Seorang lelaki berusia dua puluh delapan tahun. Berbadan atletis, tampan bersahaja dan berkulit putih bersih. Lelaki yang sangatlah ideal untuk para penggemar wanita wanitanya.
Keduanya berpapasan saat keluar dan masuk ke sebuah plaza senayan selepas bertemu dengan relasinya tadi jam delapan malam. Laki laki itu berbalik keluar plaza menemuinya. Keduanya sama sama tak percaya dan sama sama terdiam untuk beberapa detik lamanya.
Diam!
“Hei……………kamu aurel kan? tanyaya menepis kediaman serasa menjulurkan tanganya untuk sekedar bersalaman. Namun aurel tetap terdiam. Perasaan menjadikannya terpaku akan sesuatu hal yang dulu dan sekarang untuk ia lupakan.
Dan Ali tahu situasi itu namun ia mencoba menenangkan perasaannya sendiri. Ia biarkan aurel bermain dengan situasi yang mungkin ia senangi. Dan Ali mencoba mengulang kembali sapaannya.
Aurel menyunggingkan senyumannya sedikit. Lalu katanya,”Aku………ak…………aku……… pulang pulang dulu yah!” setelah berkata demikian ia lajuhkan langkahnya secepat mungkin tanpa menoleh untuk menuju kearah mobilnya. Namun Ali sudah mempersiapkan situasinya maka ia pun secepat mungkin meraih lengan tangan kanan di hadapanya.
“Kita bisa bicara sebentar kan? Dan kita bisa duduk duduk dulu kan dikafe!”ajaknya serasa mengendorkan peganggannya.
Aurel tetap berdiam
“Sebentar saja,real?” pintanya dengan intonasi yang ia turunkan sedemikian lembutnya. Membuat aurel ingin segera terlepas dari perasaannya yang ada. Aurel tahu jika ada orang yang memanggil namanya dengan real itu hanyalah dia. Dari semua lelaki yang pernah ia kenal dan dekat dengannya.. Ya hanya dialah yang selalu memanggil namanya dengan panggilan real semenjak ia berkawan dengannya di bangku slta.
Aurel memainkan bibirnya yang sedikit bergetar.
Getaran yang selalu membuatnya tak tenang jika berhadapan dengan laki laki tersebut. Dan ia sudah mengambil keputusan untuk segera meninggalkannya dan segera berlari ke arah mobil yang ia parkir di dekat pintu masuk plaza. Setelah sampai ia membuka pintu mobil dan menyuruh sopirnya tuk segera berjalan secepat mungkin. Secepat debaran di jantungnya. Debaran yang sangat keras yang ia rasakan sesampainya di rumah.
Bahkan sampai bertemu dengan anak anak serta suaminya malam ini.

****

PAGI

Semua keperluan kantor suaminya sudah di bereskan olehnya dan sebagian sudah di letakkan di jok bangku belakang mobil suaminya. Dan ia juga sudah menyediakan sarapan paginya yang berupa roti sandwiz bertabur parutan keju dan yogur. Juga segelas air putih hangat. Hanya menunggu suaminya turun dari kamar tidurnya yang berada di lantai dua.
Sementara kedua anaknya sudah terlebih dahulu dibawa main oleh para pengasuhnya di halaman belakang dekat kolam ikan serta kolam renang. Ia tahu kalau si bungsu paling tak suka dengan air maka di buatkan ayunan dipinggir dekat tembok.
Sesekali ia melambaikan tanganya dan tersenyum pada kedua mata hatinya dari ruang makan yang memang sengaja di buat terbuka agar bisa leluasa memperhatikan kedua anak anaknya jika sedang bermain di taman belakang. Dan sengaja tak ada sekat atau benda apapun yang bisa menutupi pemandangan itu. Dan untungnya suaminya juga menyetujuinya.
Beberapa menit kemudian saat suaminya sudah rapih dan duduk di bangku meja makan. Perhalatan setiap pagi segera dimulai. Diawali dengan segala rentetan agenda acara yang biasa dan mungkin akan di kunjungi oleh suaminya. Lalu beralih pada satu janji yang memang tak bisa di batalkan, yaitu menyaksiakan acara java jazz nanti malam. Yah, keduanya memang penggemar berat lagu lagu jazz dan ballad.
Selanjutnya Aurel menghantar suaminya sampai di depat teras dan saat mobil itu sudah meluncur keluar garasi ia segera kembali masuk kedalam untuk sekedar bercanda pada buah hatinya. Meski hanya sesaat namun ia tak mau kehilangan saat saat bersama buah hatinya.
Selanjutnya ia segera masuk ke ruang kerjanya dan mulai berbaur pada rutinitas pekerjaannya. Hingga suara hpnya berdering untuk beberapa kali. Aurel masih enggan di ganggu sebenarnya namun ketika bunyi itu mulai mengusik beban pendengarannya ia segera mengangkat hpnya dan mengklik jawabannya.
Tanpa melihat siapa yang menelpon aurel mencoba menyapa suara dari seberang yang hanya terdiam.
“Hello,”
“………..”
“bisa jawab pertanyaan saya kan? siapa anda?” katanya sambil tetap memperhatikan berkas berkas pekerjaannya yang masih berceceran diatas meja kerjanya.
Namun tetap tak ada jawaban,
Dan Aurel hendak mematikan hpnya saat terdengar suara dari seberang tempat ia langsung meresponnya.
Dan percakapan itu terasa mengusik pekerjaannya sebenarnya bahkan Aurel hampir terbelalak saat mengetahui si penelon. Berkas itu mulai tercecer dari genggaman tangannya. Jatuh ke lantai dalam diam yang mungkin seperti mematikan jantung Aurel sendiri.
Sumpah serapah ia mencoba menenangkan pikiran dan perasaanya.
Dan setelah ia bisa mengendalikannya ia segera berkata,” Ada………ap…………..apa lag……..lagi, Ali?. Dan darimana kamu tahu nomorku?”
Semburat kegalauan mulai mengusiknya dan aurel selalu saja tak tenang saat laki laki itu mulai kembali hadir dalam kehidupannya.
“Kenapa kamu,Real? kelihatannya kamu gugup dan tak siap menerima kehadiaranku? Atau……..memang kamu sudah ingin melupakanku dan mencoba untuk tak berdamai dengan situasi seperti saat saat ini. Aurel………………tenang. Aku harap kamu bersikap biasa saja dan tak perlulah kamu merasa asing lagi denganku. Maukan,real. Aurel……………”
” Maaf, aku masih ada kerjaan dan maaf jika aku harus mengakhiri pembicaraan ini.”
Tanpa menunggu jawaban dari seberang aurel langsung mengnonaktifkan hp blackbery javelinnya. Suara deru nafasnya berpacu bersama dengan ke tidak siapan pikirannya menerima kehadiran laki laki itu. Sesaat Aurel menarik nafasnya dan menghembuskannya keatas langit langit kamar.
Dan alangkah senangnya aurel saat kondisi pikirannya sudah kalut terdengar suara sapa kedua anak anaknya yang datang ke kamar kerjanya. Untuk sementara waktu ia sedikit lega dengan bercanda canda bersama mereka.

****

Malam
Rada kesal juga mereka berdua saat hendak memarkirkan mobilnya di arena parkit jcc senayan. Saat mereka berdua hendak menyaksikan acara java jazz. Dan kepenatan itu masih berlanjut saat mereka juga hendak memasuki lorong lorong pintu masuk assembly 3.
Itu hanya sebentar dan saat si pembawa acara mulai memastikan kalau sang penyanyi Jason miraz akan segera dimulai.
Nampak aurel menggandeng tangan suaminya begitu erat saat si penyanyi mulai menyanyikan lagu Make it nine dan lucky.
Semuanya hanyut dalam lantunan suara khas jason. Para abg abg malah semakin keras meneriakan nama si penyanyi saat bereaksi dengan penonton yang ada di depannya. Dan tiba tiba di tengah acara sang suami memohon untuk keluar sebentar menerima telpon dari relasinya yang ada di semarang. Aurel menganggukan kepalanya tanda setuju. Dan ia kembali terbius saat terdengar intro dari lagu life is wonderfull. Tidak! Bukan hanya aurel namun semua pengunjung yang ada di ruangan tersebut. Teriakan serta teriakan mulai membahana bersama suara suara yang mengikuti lyrik lagu tersebut.
Aurel benar benar menikmati acara malam ini. Dan perasaan itulah yang terbawa saat ia segera meninggalkan ruangan dan menuju ke lobby utama dan berdiri menunggu suaminya.
Beberapa detik kemudian.
‘Masih menunggu suamimu,real?” sapaan itu. Sapaan yang tanpa ia menoleh ke arah pemilik suara itu pun ia sudah tahu siapa yang menegurnya. Namun kali ini ia sudah bertekad untuk menjawab sesantai mungkin. Ia tak mau terlihat kaku dan sepertinya menjadi tersangka di depan laki laki tersebut. Ia mulai menoleh saat suara itu berulang ulang menmanggil namanya. Aurel tersenyum sedikit. Dan ia tak mau membalas sambutan tangan laki laki itu saat menjulur ke arahnya.
“Kenapa kamu,real?”
Diam.
“Mestinya aku yang marah sama kamu dan bukan kamu yang justru marah padaku,real? Dengarkan aku! Aku sampai saat ini masih menanti dan mengingat kamu sedangkan kamu sendiri? Coba kamu pikir lag………..”
“Sudahlah,Ali. Sudah! itu semua masa lalu dan sekarang aku sudah memiliki seorang suami yang sangat sayang padaku,”
“Apa aku tak sayang pada kamu,real. Apakah selama ini aku akan merubah semua perasaanku padamu meski…………………..
“Li…… please!”
“Kenapa,real. Kenapa! Apa yang membuatmu tega merubah semua keinginan serta cita citaku untuk memilikimu selamanya. Dan kenapa justru malah kamu kawin dengan laki laki yang sebenarnya belum begitu lama kenal dengan kamu. Aku real………….aku yang begitu kenal kamu lama dan yang memahami semua prilaku dan cita citamu.”
Real terdiam dalam sudut perasaannya yang kelabu.
Dan aurel mencoba tak terbenam dalam situasi yang sepertinya membuatnya tak nyaman. Dan …………….

Episode 2
Hujan mengguyur kota jakarta dalam kediaman siangnya langit. Menghalilintarkan ketakutan di jantung para pengendara di jalan jalan raya, merujuk dalam ketakutan yang tak menentu saat banjir menggenang dengan tulusnya membanjir di tepian rumah rumah. Dan justru tak heran lagi ketika dengan seenaknya limbah buih banjirnya mulai menyerempet ke gedung gedung tinggi dan rumah rumah kelas atas.
Dan mestinya keluarga aurel tak perlu sepanik sekarang ini. Ia telah mengungsikan keluarganya dari tempat tinggalnya yang memang tak akan terkena banjir. Dan mermilih sebuah apartemand yang berada dikawasan kuningan dekat kantornya.
Dan aurel senang saat ia bisa menempati ruang dilantai dua dipojokkan dekat rolong rolong menuju ke arah tempat permainan anak anak. Aurel sudah memberi kabar pada sekretarisnya bahwa hari ini ia tak masuk kerja.
Dan ia juga telah memberitahukan suaminya yang sudah sejak malam tadi saat selesai menyaksikan konser jazz berangkat ke semarang untuk membahas proyek kerjasamaanya selama tiga hari. Bahwa ia akan menginap di apartemand untuk beberapa hari.
Jam satu siang
Selesai menemani kedua anaknya tidur siang aurel segera keluar kamar untuk melihat perkembangan kota jakarta saat terbenam banjir. M’ba pengasuh sudah terlelap di bangku panjang dekat ranjang anak anaknya tertidur.
Dan ia tak mau membangunkan acara tidurnya. Ia sadar kalau mba mba itu terlalu kecapaian saat harus bolak balik dari rumah ke apartemend untuk membawa semua kebutuhannya dan juga keluarganya. Perlahan ia membuka pintu dan keluar untuk sejenak ia menyaksikan keadaan anaknya yang terelelap itu dan selanjutnya menutup kembali pintu kamar perlahan lahan.
Sampai di taman lantai dua dekat permainan anak anak ia memilih duduk di salah satu bangku yang menghadap ke depan. Hujan sesaat hanya rintik rintik. Dan cuaca memang masih belum stabil tuk di terka. Karena kadang besar dengan angin kencangnya tetapi kadang hanya rintik rintikan saja hujannya dan terus berulang ulang dalam tempo yang tak menentu.
Dan aurel tak bergeming dari tempatnya saat hujan kembali mulai sedikit lebih kencang. Ada payung besar yang melindungi dirinya.
“Dan kita akan selalu menyaksikan tarian hujan ini dalam keceriaan tawa kita berduakan,real?”suara itu terdengar selaksa berbisik.
Diam.
Ia menarik nafasnya untuk sesaat kembali di hempaskannya. Dengan sedikit dongkol ia mencoba menahan emosinya saat terdengar suara itu. Suara dari pemilik yang selalu saja ada saat ia ingin menyendiri.
Dan Aurel belum sempat menjawab saat pria berpenampilan tampan itu kembali menegurnya dengan penekanan kata yang lebih dari sebuah rajukan di bandingkan di sebut merayu. Dan aurel tahu pria itu memang lebih berkharisma saat mulai melontarkan rayuan rayuannya kepada semua wanita. Hingga tanpa sadar telah menghujami perasaan semua hati wanita saat sudah berada di dekapannya. Dalam intonasi kata yang membiuskan cinta di jiwa yang benar benar penuh dengan cinta dan cinta. Termasuk dirinya.
Diam!
Hanya dengus nafas yang saling bersahutan dengan citra yang semakin membendam sejuta perasaanya.
“Kamu tak perlu menanyakan dari mana aku bisa tahu kamu dan keluargamu berada dimana dan dimana kamu berada saat selesai dari kantor,”usiknya serasa menjawab keterkejutan aurel atas penampakannya.
Aurel mengelos sendirian dan ia berusaha tak terpancing dengan situasi seperti ini. Situasi yang beberapa tahun yang lalu juga seperti saat ini. Saat mereka berdua berbincang sambil duduk di saat hujan turun. Situasi yang sebenarnya ingin sekali ia lupakan.
Tapi tak ada satu reaksi pun yang tercipta . Hanya dalam diam mereka mungkin sedang membicarakan sesuatu hal namun mereka enggan tuk membuka mulutnya.
Aurel meremas jemari tanganya sendiri perlahan lahan sambil menundukkan kepalanya. Sementara carol tetap menatap sosok perempuan yang dulu amat ia sayangi.
Perempuan yang sedari slta sudah ingin ia miliki karena kelembuatan tutur kata serta sikap dan cara berpenampilannya. Perempuan yang dengan sejuta pesonanya telah meluluh lantahkan seroja seroja yang tumbuh dfi jantung hati cintanya. Mempesoana dengan sendirinya. Hingga menjadi perempuan yang semakin merona rona kehasratannya dari pancaran matanya yang memiliki sorot mata yang menggairahkan.
“Tak perlu kita mengingat semuanya, Ali. Percuma saja bila kamu masih berharap pada kelanjutan cerita di masa lalu ki………………..”
“Kamu bicara apa,real?”
“Tak usah belaga tak mengerti….sst! tak usah memotong pembicaraanku yang belum selesai,Li!. Aku belum selesai bicara.”harapnya saat pria itu hendak memotong pembicaraanya.’ Aku tak suka semua caramu ini!”lanjutnya dengan mimik yang seserius mungkin.
Diam.
“Jangan berharap aku senang dengan semua caramu untuk mempermainkanku. Untuk membalas sakit hatimu.Untuk menganggu keluargaku!?” nafasnya mulai tergesa gesa seiring emosi yang mulai menampak. Setelah itu ia menarik nafasnya kembali.
‘Kamu kenapa,real?” tanyanya dan aurel mengendorkan nafasnya agar kembali teratur.” Kamu ngomongin apa? Dan siapa yang akan menyakitimu? siapa yang hendak menggangu keluargamu? Aku?’ kalimat yang terdengar kesal namun di lontarkan dengan kosa kata yang sangat sopan.
Kediaman yang selalu memberi ruang untuk mengenduskan nafasnya masing masing.
“Dan siapa yang sedang mempermainkan perasaan sakit hatimu. Siapa,real? Aku tak pernah sakit hati dan tak akan pernah sakit hati padamu. Dari dulu dari saat pertama kali kita mengikrarkan janji sumpah suci atas percintaan kita dari lubuk hatiku masih terukir janji itu bahwa engkau masih ada dalam ikrar itu. Dan aku tak bisa mengalah dalam hembuskan sepi ku saat engkau merobak semua rencana ikrar janji suci kita. Aku pikir aku keliru saat engkau hendak…………………”
“Aku tak mau dengar lagi Li………aku tak mau dengar cerita masa lalu itu.
“Dan engkau masih jadi milikku kan saat engaku memutuskan untuk tinggal di australia bersama tantemu disaat…..
“Aku tak mau dengar!” teriaknya.
Membuat Ali sejenak tercengang. Di pandanginya dengan lekat wajah perempuan yang berada di hadapannya.
Beberapa menit setelah berkata aurel bergegas dari duduknya dan melangkah cepat menerobos barisan hujan yang menghujami tubuhnya. Laki laki itu tak melakukan sesuatu tindakkan apapun.
‘ Dan aku minta kamu menjauh dari kehidupan ku,Ali!” ujar aurel sambil membelakangi wajah laki laki yang selalu mengganggu pemikirannya.
Diam!
Ia biarkan perempuan itu berjalan menjauh dari tatapan matanya. Di biarkan ia membasah dalam diam sembari terus menatap sosok perempuan itu hingga benar benar menghilang dari pandangan matanya.

***

Sisa tarian malam hanyalah sebuah lukisan dari raut wajah sang rembulan malam ini yang sedang merenung dalam kediaman. Tiada lagi tatapan ceria dalam barisan awan yang menghitam pekat di atas langit langit, lukisan kegelapan yang selalu saja ia rasakan kerap hadir bersamaan dengan kehadiaran sosok carol dalam kehidupan sehari harinya kini. Sudah berkali kali ia hendak membicarakan masalah ini pada suaminya namun selalu saja ia tak tega mengganggu rutinitas pekerjaannya yang menumpuk. Ia tahu kalau Raehan suaminya itu sudah terlalu sibuk dan ia tak ingin banget menambah beban yang satu ini. Raehan tak perlu tahu masalah……………….
“Mah………………”
Aurel terbelalak dengan segera ia bangkit dari tempat tidurnya dan berlari menghampiri sumber datangnya suara anak bungsunya. Ia panik dan takut akan terjadi apa apa dengan anak bungsunya itu. Tetapi sampai di dekat pintu ruang yang menuju ke arah taman belakang rumahnya. Ia terhenti. Aurel benar benar terpana akan pemandangan yang dilihatnya. Ia sok. Ia hampir tak mempercayai kalau anaknya itu sedang tergantung dalam pegangan tangan Carol diatas kolam renang.
Aurel marah
“mah……..!
Suara itu! Suara yang benar benar memohon pertolongan darinya. Aurel benar benar gugup dan stres di buatnya. Salah tingkah ia mencoba mencari celah agar Ali mau melepaskan anaknya. Ia tak mau Bram merasakan pembalasan atas sakit hati diri laki laki itu. Air matanya sudah menetes dipipinya. Tetapi carol hanya diam dan memandanginya terus berganti memandangi anak perempuan yang dulu ia sayangi.
“Mah! Blam tatut……mah! Blam ta mau cena ail mah………..!”
Aurel benar benar menangis
“Tolong Liiiii………..please lepaskan anakku,!” isaknya sembari membiarkan air mata itu membasah sekujur wajah dan lehernya, katanya lagi memohon,” Aku mohon padamu,Ali. Jangan libatkan anakku jika memang kamu marah padaku! Dia tak tahu apa apa …………please! Kamu boleh bunuh aku tapi jangan kamu sakiti anakku ………….aku memang salah meninggalkanmu waktu itu tetapi ak…………….aku…………….”
“Mah………!”
Selangkah demi selangkah aurel mencoba mendekati dia namun laki laki itu sudah mengendorkan genggaman tangannya. Setapak lagi kaki anaknya akan menyentuh permukaan air kolam.
Dan aurel berteriak mencari pertolongan. Namun tak ada satupun yang mendengar. Ia seperti orang stres berjalan tanpa arah di dekat anaknya.
“Ali……………..aku mohon jangan sakiti dan siksa anakku Ali. Please! dia tak bisa berenang dan dia paling takut dengan air kolam. Letakkan anakku dari atas kolam dan biarkan ia duduk di tepiannya . Aku mohon …………………………

“Mah……………………..!”“Bram………………….!”
Sebuah teriakan yang sangat kencang itu telah membahana seisi ruangan. Tanpa lelah aurel terus berteriak sambil terus memanggil manggil nama anak bungsunya.
Aurel tersentak dari tidurnya. Dan duduk diatas kasur. Dan mengatur nafasnya tang tersengal sengal. Susah payah ia memastikan bahwa semuanya itu hanyalah mimpi belaka. Namun tetap saja aurel masih bergetar.
Sementara itu di depan ranjang tempat tidurnya. Para pembantunya sedang kebingungan mencari cara tuk menenangkan majikannnya. Berkali kali kedua pembantunya memanggil majikannnya.”nyonya…..nyonya bangun……………..sebut nyonya. Sebut asma Alloh. Nyo………………”
“Bram……bram dimana, mba min. Bram…………..”
Celengak celinguk aurel mencari cari anak bungsunya.
“Blam ditini,mah…………….tenapa tih mah teliak.teliak……”
Tanpa menjawab pertanyaan anaknya aurel langsung mengangkat anaknya dan memeluk anaknya. Mendekapkannya dalam dekapan tubuhnya. Berkali kali ia menciumi anaknya dengan perasaan yang sangat kuatir.
Aurel sadar kalau itu hanyalah sebuah mimpi buruk, namun tetap saja ketakutannya belum sempat ia hilangkan.
“Mah….mamah tenapa? mamah tatit?”
Aurel tersenyum dan jawabnya,”Tidak sayang. Mamah tidak sakit. Mamah cuma kangen sama kamu. Sini mamah peluk lagi.”
Dalam pelukan kasih sayang seorang ibu memberikan rasa hangat pada jiwa sang kasih buah hati anaknya sendiri.
“Mah…”
“Ya,sayang. Ada apa?”
“Mamah tan elum nandi………………ndi uyu,mah, yah,mah………….au nich……..”
Sekejap aurel tersenyum haru sambil memandangi buah hatinya. Sambil mencubit kedua pipi anaknya ia segera mengiyakan perintah anaknya.
Semenit kemudian kedua pembantunya memohon izin tuk kembali ke ruang dapur. Sambil menutup pintu kamar majikannya. Mereka berdua tersenyum senyum melihat tingkah majikannya itu. Dari balik pintu pun mereka masih mendengar canda tawa majikannya dan anaknya.

****

Minggu yang gerimis

Aurel sudah berjanji UNtuk bertemu suaminya yang tiba di jakarta pagi ini. Ia bilang akan langsung bertemu dengan karyawan bagian program di salah satu cafe di daerah senayan city.
Janji jam satu siang namun aurel tetap saja datang agak terlambat dua puluh menit saat tiba di senayan city. Dengan memakai gaun warna merah marun batiknya prayudi serta kain sarungnya the oscar warna senada aurel terlihat lebih cantik. Tas merk Gucci menggantung di tangan kirinya semakin menambah keanggunan. Dia masih akan menghadiri beberapa acara sampai malam makanya ia lebih praktis berpenampilan seperti saat ini.
Dan aurel pun melangkah memasuki lobby tuk menuju tempat yang telah di tentukan oleh suaminya. Naik kelantai empat aurel sempat berpapasan dengan sahabat lamanya yang datang bersama suaminya. Berbincang melepas kerinduan sejak terakhir di acara lulusan sltanya. Sebelum berpisah sahabatnya sempat berbisik di telinganya. Samar samar memang aurel mendengarnya namun karena ada nama Ali tersebutkan aurel menangkap jelas pendengarannya.”Ia semakin keren saja,ya Aurel” bisiknya sambil melangkah meninggalkanya.
Dan sepanjang perjalanan ke lantai lima pikirannya telah bermain main dengan kehadiran carol di hadapannya nantinya. Ia ingin berbalik pulang saat tanpa sengaja ia menoleh ke arah kiri saat tiba di lantai lima. Saat matanya dengan sengaja menangkap sosok suaminya sedang bebicara dengan………………….Alil!
“Tidak!” bisiknya dalam diam.
Dan aurel sudah mengambil keputusannya untuk segera berpaling pulang ketika terdengar namanya di sebut sebut oleh suaminya. Aurel terdiam sejenak. Mengatur kembali pernafasannya. Lalu……………

cipaganti hotel……tidak bukan sebuah bangunan sekolah atau pun tempat bermain. Bukan! Cipaganti hotel tempat aku dan dia berada disana,saat itu.

Tidak. Bukan kerana nafsu membekas hingga kami berada disana.

Bukan juga karena keinginan?

Cipaganti hotel……..tidak, bukan area tersembunyi maupun tempat tertutup. Ci paganti sellau sedia menerima siapapun

Tapi tidak! bukan karena sebab menjadi permasalahan yang ringan. Bukan juga karena penindasan kata yang tertumpah di bibir merahnya, kala egoku memanggil jiwa pembunuh di diriku.

wajahku dan wajahnya mengerang ketidakpastian tanya.

bibirku dan bibirnya menyimpan misteri keinginan

lalu terlontar kata kecil dan penyuka jenis dari bibirnya

lalu mengelaklah aku

lalu dia terus mengulang ulang kalimat tersebut

lalu marahlah aku

lalu menjeratlah lehernya dikedua tangan kokohku

lalu tenggelamlah dirinya diantara air panas lalu hilanglah nafas serta nyawanya

lalu….bersembunyilah aku

lalu……………aku menyesali perbuatanku saat itu,bisik jiwanya hampa!

 

embun pun belum turun di deretan dedaunan

percik sang rembulan terasa enggan menyimbulkan sinarnya

masih malam

masih setengahnya tidur sang burung hantu tetapi

engkau menjalak sadis di pinggiran kegelapan

Aku diam

terdiam menghitung seberapa lama lagi dengusan nafas ku ini

tetapi tidak! nafas tak bisa terhitung dia merasa akan pergi sesaat

entah kemana dan dimana?

nafasku sedang terisolasi dalam penghapusan kematian yang terjanggal

diam. terdiam dalam kesunyian malam yang pekat

dan nafas ku segera tersingkirkan,,,,,,,,,,,,,entah menyesal atau penyesalan yang berbicara

kerana nyawa ku sedang di terbangkan diantara malam yan mencekam dan juga atas dosa dosa yang terpenggal

 

Nusa kambangan terdiam tepat pukul 00 lewat 30 2015, 18 januari

 

Nyawa itu sudah melayang lagi mendekat padaMu, Tuhan.

Dan dia berada dalam ketidak berdayaan akan tempat yang layak untuk sekedar meniduri jasadnya di liang yang kemungkinan sangat paling terhormat bagi sebagian nyawa nyawa yang masih bernafas!

Kenapa lagi ini,Tuhan?

Harus gimana lagi aku sebagai hambaMu untuk menjelaskan kepada semua orang mungkin juga kepada seluruh penduduk di muka bumi ini, pada bapak bapak yang terhormat, pada ibu ibu yang selalu mentasbihkan dirinya sebagai yang tersuci, pada pukulan palu yang mungkin akan segera mengesahkan arti kehadiran keluarga kami disini. Di jagad raya ini. Yang notabenanya juga tempat kelahiran nenek moyang kami sendiri. Kami anak bangsa kami. Kami dari golongan yang mayoritas juga masih merantaikan jasad keluarga kami dengan label keagamaan yang sudah dari lahir ditanamkan di langit langit kemaluan jiwa kami. Bahwa kami punya hak untuk tinggal disini. Bahwa kami bukan sekutu dan juga bukan kaum mayoritas. Keluarga kami adalah satu paket yang telah Engkau tunjukan sebagai keluarga yang mengerti dan akan selalu mengerti hakekat dan arti persaudaraan.

Benar salah satu keluarga kami telah mencoreng hakekat dan pedoman moral yang ada . Benar juga kalau salah satu keluarga kami memang melakukan satu tindakan yang sangat merugikan banyak pihak. Dan kami tak akan pernah bisa memungkiri semua itu. Hadist kearifaan atas keputusan telah mereka tuntut pada salah satu keluarga kami. Pasal pasal mengenai keaiban sudah menjadi satu rantai yang sangat kuat sudah di lingkarkan di lehernya. Lalu, kenapa masih kurang saja pendosa pendosa itu berkeliaran mencari mangsa atas kexsalahan keluarga kami. aPA YANG SESUNGGUHNYA MEREKA CARI? atau segumpal kotoran yang ada di belakang tubuh kami juga harus diungsikan? atau penyakit kudis dan flu babi itu tidak lebih seram daripada kehadiran keluarga kami. Nistakah nyawa keluarga kami jika  masih bertahan disini. Di serambi tempat kami berteduh! Lalu dimana kami mesti berdetuh? Dimana kami harus membuang kotoron kotoran dalam jiwa kami sedangkan untuk berlutut dalam anyaman doa saja mesti sembunyi sembunyi.

Salah satu keluarga kami memang salah…………..dan kami mengerti itu. Tapi tolong ………………lunakkan sedikit saja perasaan kalian untuk menerima kepahitan yang sudah sangat melukai kami semua.

Sahabat, ketika ada diantara warga kita,saudara kita terkena masalah…………..apa yang hendak kalian lakukan? membencinya sampai mati atau bahkan menolak berada di sekitar tempat tinggal sahabat meski nyawanya telah terbang?

kematian adalah sebua ketidak penjelasan atas nyawa yang tertunda

dalam kasih Bapak di altar Gereja

atau dalam  sudut ruang mushola

nyawa menjadi lebih sangat tak berarti.sementara,

kemurkaan mulai bercampur dendam!

dan takdir sudah berada diujung niat

 

 

kematian dalam sunyi,juli 2014

arsip bluethunderheart

my blue calendar

September 2016
S S R K J S M
« Mar    
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

Blue Stats

  • 133,227 hits