My Blue Thunder Heart’s BLOG

Posts Tagged ‘bayu

nasib bak cando buah pitulo……….di dalam ramuak lah batarawang

di lua sandiang lai tagak juo……….palampok malu ka bakah urang

taguahkan iman banayk basaba

alah suratan dari nan Satu………(lagu minang serasa mengena dengan postingan ini)

Butiran airmata di pipi anak seusia dua belas tahunan itu terus saja mengalir deras,meski malam telah merambat gelap, dan ia telah berdiri bersandar di dinding tembok rumah tua tak berpenghuni itu, hampir setengah hari. Dan waktu menunjukkan tepat jam tujuh malam. Bayu namanya, lengkapnya Bayu Langit Prakoso, anak ke dua dari enam sanak saudaranya. Bapaknya cuma pedagang asongan yang suka menjajakan dagangannya di depan sekolah SD yang berada di perempatan lampu merah, dekat sebuah mall di sekitar timur Jakarta, ibunya cuma kuli cuci keliling, sedang abangnya masih tergeletak di balai tempat tidur, meringkik menahan sakit yang kurang jelas apa nama penyakitnya, karena bagi orangtuanya, anaknya cuma sakit biasa, katanya; bila ada orang yang bertanya tentang anak ke satunya, dan itu berlangsung hingga tahun ke sembilan. Miris kedengarannya, tetapi demikianlah adanya tanpa dikurangi dan di lebih-lebihkan, segalanya berjalan dengan tanpa satu permintaan welas asih pada semua penghuni bumi di sekitarnya.

Dan bayu masih disana, bersandar memandang alam disekitarnya yang sudah berubah gelap, tatapan matanya kosong tanpa celah kesejukkan yang melekat di dua bola matanya, yang jika pagi hari terlihat bercahaya, memantulkan rasa kedamaian. Itu semua cuma cerita masa lalu, tetapi saat ini, jangankan kedamaian yang melekat, sinar kehidupannya saja sudah memudar, karena yang melekat hanyalah sebuah sinar luka yang menari nari dengan ganasnya di pelupuk bola matanya.

Ia menangis sekali lagi. Bukan karena ia tiada teman yang menemaninya saat itu, tetapi karena ia mulai merasa tidak sanggup lagi tuk menghujat penderitaan ini pada jiwanya sendiri, ia merasa tidak sanggup lagi menggengam mutiara duka itu di dermaga hatinya.

“Kenapa Tuhan! Kenapa!!” jeritnya kemudian, dengan lembut sembari memandang langit yang juga telah tertutup selendang kepekattan malam. Lihat aku Tuhan..Lihat! harus gimana lagi aku untuk menunda duka ini agar tidak datang dalam hari-hariku yang mulai melelahan ini, Tuhan ? Kurang apa lagi aku untuk meminta selembar saja kain kebahagiaan itu untuk aku dan keluargaku, cuma selembar saja, Tuhanku yang Maha Bijaksana. Aku terlalu lemah memang dalam memandang kebaikkan yang Kau inginkan di setiap kali aku memanjatkan doa pengharapan dariMu. Tapi apakah aku masih kurang pantas tuk berselingkuh dengan kebijaksanaanMu yang sering ku lakukan, * apa masih kurang pantas, Tuhanku, lihatlah, mata rantai yang selalu membelenggukan ajaran yang ku anut ini, Tuhanku, semuanya telah kulakukan, segalanya telah kupasrahkan pada mata rantai pemilikanMu, hingga aku takut jika sampai melepaskan salah satu mata rantai itu tersebut, aku benar benar takut Tuhan, karena kata ibuku’ seapapun parahnya penderitaan yang sedang kita jalani jangan sampai kita melupakan perintahNya, dan itu terus terngiang-ngiang di bunga ingatanku.

Aku salah apa Tuhan? apa karena kemarin, delapan ratus detikyang lalu, aku keseringan memuntahkan kristal-kristal putih, dijemari tangan nafsuku sendiri? menidurkan tubuhku diatas benang mimpi-mimpi yang indah? atau karena aku pernah menelanjangi janjiku tuk tidak bersetubuh dengan nyanyian dosa? hingga lupa tuk tetap mencium perintahMu? apa hanya karena itu hingga aku masih menghirup bau keperihan di sepanjang hari hariku.

Diriku teramat letih tuk menjuntai benang derita itu saat ini Tuhan. Semusim derita tetap berada di rumah kehidupanku, dengan menatap derita yang memancar di mata orangtua kami. yang entah sudah merajut beban apa lagi tuk di tanggungnya, segalanya terasa berat, beban keluarga, sanak saudara yang enggan bersentuhan degan kehidupannya, berita kenaikan harga kontrak rumah,minyak tanah, listrik, bahan makan dan entah apa lagi yang akan ia dengar beritanya. Aku tak sanggup lagi untuk tidak mengakhiri perjalanan derita ini sampai malam ini, sampai………. …….. …….. (segalanya berhenti saat Bayu mulai mengakhiri perjalanan hidupnya diatas pohon dekat rumahnya bergantungan )

sebuah dilema saat aku baca dan menyaksikan berita duka yg terjadi dalam kehidupan seorang penerus bangsa itu harus berakhir………….


arsip bluethunderheart

my blue calendar

Juli 2017
S S R K J S M
« Des    
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Blue Stats

  • 135,130 hits