My Blue Thunder Heart’s BLOG

Sujud yang terkoyak……(buku harian seorang ustad muda)

Posted on: 26 Juli 2011

Novelet

Sudut kota jakarta menjelang malam di tahun 2002

Jakarta dalam rangka menuju keasriannya sang malam ternyata sangat sedemikian ramainya. Pola hidup sang urban maupun pelengkap metropolisannya sang malam di jakarta. Lampu jalanan sedemikian beragam cahaya menerangi berbagai sudut pandang kota jakarta. Dalam diam. Dalam bisikan sang malam. Dalam gerimis yang bersenandung. Dalam dekapan sukma. Dan dalam tarian pemuas nafsu yang tak berhenti. Seperti lelaki berusia delapan belas tahun yang sedang berjalan gontai Seorang laki laki berjiwa muda dengan paras wajahnya sangat tampan. Dalam kegamangan sang jiwa pemuda tersebut terus berjalan hingga ia benar benar terkulai dengan nafas yang tersengal sengal dan jatuh di rerumputan di pinggirnya sudut malam kota jakarta.

Tasikmalaya di tahun 2009

EPISODE KEMURNIAN JIWA…………

seorang santri muda dengan wajah yang sangat tampan dengan tubuhnya yang bertegak berjalan menuju ke sebuah surau yang berada di ujung timur pesantren di tasikmalaya. Saking tampannya rerumputan berasa sangat segar menyambut setiap langkah langkahnya. Seperti desir angin yang menghembuskan kesegarannya buat seluruh alam. Menimbulkan banyak ragam atas ketampannnyanya. Seperti nabi Yusuf yang dikurniakan oleh Alloh rupa yang bagus, paras yang tampan dan tubuh yang tegak  yang menjadikan idaman bagi setiap wanita dan menjadi kenangan para gadis gadis remaja.

Seorang santri bimbingan dari pak kyai Azam,pemilik padepokan pesantren tersebut. Lulusan dari universitas di kairo, anak dari saudagar kaya di jakarta. Nama pemuda tersebut Fakhri bachtiar alamsyah.

beberapa menit kemudian ia sudah duduk di atas rerumputan dengan membaca buku kumpulan hadist bukhari Muslim. Sangat khusuk mengamati beberapa persoalan yang dijabarkan dalam buku tersebut. Sepertinya keImanannya sedang menaik.

Abdullah bin Mas’ud r.a berkata: ketika turun ayat: mereka yang beriman dan tidak menodai (mencampuri) iman mereka dengan zhulm (aniaya), merekalah yang terjamin keamanannya,dan mereka yang mendapat petunjuk hidayat…………….

Sepertinya fakhri benar benar tak ingin terganggu saat ia menyimak setiap kata perkata dalam buku tersebut. Hingga ia tak menyadari bahwa ada sepasang mata yang sedang mengamatinya dari balik pohon di belakang tempatnya duduk.

***

Di sudut kamar peristirahatan nampak semua santri pria sedang menikmati suasana sorenya dengan sembari rebahan bahkan ada juga yang tetap membaca baca buku serta menulis surat entah untuk siapa tujuannya.

“Aku bisa menebak untuk siapa surat yang engkau tulis itu,Har”serunya sambil menggoda hariez yang nampak tersipu sipu malu, dengan raut wajahnya yang memerah akhirnya ia mencoba merajuk agar temannya tak lagi menggodanya.

“Memangnya kamu sudah tahu tujuan Hariez menulis surat itu, dien”tanya Lukman sambil mendelik pada hariez,membuat hariez semakin memerah saja wajahnya. tangannya pun bergemetar hingga ia menghentikan tulisannya. Semua yang melihat gerak gerik hariez jadi tersenyum senyum bahkan si lukman terlihat paling keras tawanya.

“Jangan terlalu keras tawamu,luk ,”tegur Iman,lalu katanya lagi”Nanti kalau ketahuan  santri petugas malam gimana……kamu sendiri yang akan dimarahin……………Kalian semua juga jangan terus menerus menggoda hariez dong’ serunya.

Diam

***

Sehelai daun pinus sedikit berterbangan tatkala angin datang secara tiba tiba. Dan sehelai daunnya jatuh tepat diatas lembaran buku yang sedang dipegang Fakhri. Sesaat diambilnya daun tersebut dan diletakkkan diatas rerumputan, disamping ia duduk. Kemudian ia meneruskan membaca buku tersebut. Menyimak. Dan mencoba untuk lebih memahami isi dari kandungan buku hadist tersebut. Jika Fakhri sudah memegang buku maka tak akan pernah ada yang bisa mengganggunya. Bahkan Pak kyai sekalipun sampai harus menegurnya beberapa kali tatakala ia tak  menggubris tegurannya,tempo hari lalu.

Untuk sesaat Fakhri menghembuskan nafasnya dan mengeluarkannya secara perlahan lahan. Pandangan matanya mulai tertuju pada aliran sungai yang berada di seberang,dekat ia duduk bersantai. Tak ada siapa siapa di seberang sana di sore menjelang jam lima ini. Tak seperti biasanya yang selalu ada beberapa santri yang berlarian bahkan mengambil air sungai.Ya,biasanya santri Heru, santri Gama Husada dan lain lainnya selalu menimba air untuk mandi. Bahkan jika hujan mulai turun hampir seluruh santri nampak disekitar sungai tersebut. Selain airnya yang masih jernih dan tidak kotor bahkan sebutir kotoran pun tak diperbolehkan berada di perairan sungai tersebut. Tak terkecuali santri Fakhri sesekali juga ikut menikmati tarian rinai hujan yang turun di penghujung senja. Dan jika sudah sedemikian maka hampir tak  melihat sang waktu yang terus berjalan. Semua terlalu hanyut dalam tarian hujan tersebut. Hingga teguran sang kyai yang menyuruh mereka untuk segera kembali ke padepokan barulah semuanya berlarian menuju ke padepokan sebelum kyai Azam sendiri yang menghampiri mereka. Tidak! Bukan karena takut dimarahi……….bukan! Kyai Azam tak pernah sekalipun marah bahkan sampai membentak santrinya. Dimata para santri pak Kyai sangat disegani dikarenakan sifatnya yang penyabar serta baik hati tersebut.

Ada juga si kyai yang memiliki sifat berbalik belakang dengan sifatnya kyai Azam…………seperti Ustad Bancar, ustad Indra. Dua duanya adalah ustad yang selalu membuat para santri untuk tidak melakukan kesalahan. Mereka akan tahu resiko jika ada santri yang berbuat ulah bahkan melanggar peraturan maka akan menikmati buah dari kesalahan tersebut berupa teguran yang sangat keras bahkan sebuah hukuman yang akan membuat santri kelelahan…………..Tiba tiba butiran butiran halus yang berhorizontal jatuh dari atas langit. Cuaca mnghendaki hujan. Dan sebelum hujan turun sangat kencang maka seketika itu Fakhri bangkit dari lamunannya serta duduknya. Ia berdiri dan berlari menuju ke padepokan. Namun ia tak bisa mengelak saat hujan mulai menari nari. Sama seperti pemilik sepasang mata yang sedari tadi memperhatikan gerak gerik Fakhri.  Si pengintai tersebut segera berlari menembus pohon pohon pinus yang berada di belakang tempat Fakhri berada tdi. larinya sangat kencang bahkan sesekali tubuhnya jatuh dikeranakan terpeleset di tanah yang membasah. Sebagian tubuhnya mulai membasah. Sangat basah……………….hingga sampai di tempat padepokan pun tubuhnya basah atas hujan yang semakin mengencang.

Fakhri menghibas hibaskan rambutnya dengan jemari tangan kirinya sesampai di padepokan. Tangan yang satunya lagi tetap memegang erat buku yang sedikit kena cipratan air hujan. Sambil berjalan menuju ke kamarnya Fakhri tetap mengibas ibaskan helaian rambutnya yang hitam. Dan ia hampir mendekat ke kamarnya tiba tiba ada sebuah sapaan dari arah belakangnya.

Fakhri menolehkan kepalanya perlahan lahan dan ia menganggukan kepalanya saat sang pemanggil tersebut menanyakan apakah ia kehujanan. Dan ternyata  si penegur tersebut Pak Kyai Azam yang sedang berjalan bersama anak perempuan satu satunya. Ini yang membuat Fakhri terbelalak dan hampir tak mempercayainya. Dan pastinya semua para santri pria akan tercengang jika bisa bertemu bahkan berpapasan dengan anak pak kyai azam yang sangat cantik dan bersahaja tersebut.

Namanya Anla Bari’ah, ia seorang perempuan cerdas namun cantik serta baik hati. Segala tutur katanya selalu bisa membuat orang yang diajak bicara pasti terpesona akan kemerduan serta kelusan budi perketinya. Ia adalah seorang wanita yang sangat dipuja kaum adam bahkan menjadi idola bagi sebagian perempuan yang menghendaki bisa memiliki pesona seperti yang dimiliki oleh anak pak kyai Azam tersebut. Sama seperti yang dirasakan oleh Fakhri. Bahkan ia sedikit menundukkan kepalanya berlamaan seketika anak pak kyai tersebut memberikan salam. Padahal ia sudah mewanti wantikan dirinya agar tidak berlebihan saat bertemu dengan anak pak kyai tersebut. Tetapi ternyata jiwanya kalah dan lemah seketika dengan jelas jelas ia bisa bersitatap sebentar dengan anak pak kyai tersebut. Karena inilah kali pertamanya ia bisa berpapasan dengan anak pak kyai. Sebab selama ini ia hanya mendengar desas desus dari para santri lainnya kalau anak pak kyai sangat cantik. Bahkan santri Hariez selalu menulis surat pemujaannya pada anak pak kyai tersebut di buku hariannya. Selembar demi selembar Hariez selalu menulis kata hatinya yang menghendaki memiliki pendamping seperti Anla tersebut. Hariez benar benar termakan oleh keabadianya sebuah keinginan jiwa pecintaanya. Atas sosok santri wanita yang sangat cantik dan bersahaja terse……………

“Kamu kenapa nak,Fakhri,”tiba tiba pak Kyai menegurnya saat ia melamun sejenak, menerima teguran tersebut reaksi yang ditimbulkannya semakin membuatnya tersipu sipu malu. Beberapa kali ia memainkan jemari tangannya sendiri dan meremas remasnya. Berusahan untuk tetap tenang. Fakhri benar benar dibuat mati kutu atas pertemuannya dengan anak pak kyai Azam tersebut.

Dan hal sedemikian terus bermain main di alam pemikirannya sesampainya di kamar tidur. Bahkan sampai ia merebahkan tubuhnya saja bayangan atas sosok Anla semakin menjelaskan bahwa ada sesuatu rasa yang tertimbul di benak hatinya terdalam. Matanya. Bibirnya. Tubuhnya bahkan ujung nadinya sepertinya bergetar getar. Dan ini yang sedang dialami oleh Fakhri dalam usia yang menjelang dua puluh tiga tahun.

Tetapi sejenak ia tersadar kalau dirinya tidak boleh berbuat sedemikian. maka ia segera bangkit dari tempat tidurnya dan menuju ke tempat air wudhu. Dengan tergesa gesa fakhri menuju ke ruang wudhu. Sesampainya disana ia segera berwudhu. Lalu kembali ke kamarnya. Dan setelah selesai bersujud Fakhri memanjakan doanya..“Duhai jiwa jiwa yang berada di rongga tubuhku,kapankah dirimu berhenti sejenak dari rasa maksiat Apakah engkau tak berpikir untuk menyudahinya……….apakah engkau tak malu dengan idolamu? Engkau hadiri majelis majelis rasa sukamu…………..engkau ciumi tangan tangan keinginan hatimu dengan mengotori kuman kumanmu pada denyut jantungmu. Padahal rasa suka yang berlebihan bukanlah sesuatu yang sangat mulia untuk jiwa jiwaku sendiri.

Baginda Rosulullah saw bersabda”Pada setiap jantung yang berdenyut ada pahala………pada setiap jantung yang berdenyut ada pahala……….pada setiap jantung yang berdenyut ada pahala (HR Bukhari Muslim).

***

Jelang pukul dua malam.

Santri Hariez terbangun dari tidurnya dan segera bangkit dan berjalan menuju ke lemarinya sendiri. Diambilnya buku hariannya,dan setelah menutup laci lemarinya Hariez segera kembali ke tempat tidurnya. Dibukanya lembaran demi lembaran bagian dari buku tersebut. Setelah menemukan lembaran kosong dari buku hariannya Hariez segera menuangkan ungkapan jiwanya…...Aku adalah insan yang telah meletakan batu keinginan hatiku untuk memiliki impian yang semoga bersahaja atas rasa itu sendiri. Aku sangatlah memendam keinginan itu lewat senandung kata hatiku sendiri tatkala malam lebih mengerti dan memahami perasaanku terhadap impian yang datang di jiwaku………Aku sangat menyukai impianku ,duhai Tuhan yang lebih bisa memahami hambaNya sendiri. Dia adalah figur wanita soleha yang aku dambakan. Dan aku harapkan kelak untuk ku jadikan pendamping hidupku selama lamanya. Wanita soleha yang bisa menggetarkan kuncup kuncup bunga yang bermekaran di taman akhyalanku. Ya, diallah wanita yang telah terpilih dalami mpianku,ya Alloh. Bersamanya aku ingin melanjutkan  misi muliaku hingga akhir akhyatku kelak nanti bersamanya. Dialah wanita soleha yang………………..”

“Seharusnya engkau tuntaskan keinginanmu  itu sendiri kepada orangtua wanita yang menjadi idola hatimu,Har” tiba tiba saja santri Ifan mengejutkan Hariez sehingga tanpa sadar ia telah melemparkan pulpen itu tepat mengenai wajah Lukman yang tertidur di hadapannya. Hariez menghela nafasnya. Sesaat kemudian ia mencoba menatap wajah sahabatnya dengan wajah yang sedikit kesal,lalu ia berseru”Sebaiknya engkau tak perlu mengurusi keinginanku,kawan” Karena ini akhyalanku sendiri. Mengerti kamu!”suaranya sedikit marah. Membuat Irfan terkejut karena selama ini Hariez terkenal dengan sifatnya yang penyabar.

Suasana sedikit merenggang.

Helahan nafas dari mulut mereka masing masing semakin membuyarkan lamunan Hariez serta rasa keterkejutan Irfan sendiri. Keduanya saling berdiam. Berdua kemudian saling berpandangan. Tanpa suara.

“”Aku minta maaf……….”seru mereka berdua kompak. Hingga keduanya tersenyum dan kembali bisa melunakan suasana yang tadi sempat mencekam. Keduanya saling berangkulan.

***

Menjelang subuh suasana semakin ramai. Kesibukan para santri serta para kyai jelas membuat padepokan tersebut sedikit sumringah. Pemandangan yang akan selalu terlihat jika menjelang subuh. Sebagian santri sibuk dengan urusannya masing masing. Menyiapkan peralatan sholat. Ada yang sudah berada di musholah untuk melakukan sholat malam. Bahkan ada yang membaca buku buku Fiqih. Semuanya berlangsung hingga subuh benar benar mendekat waktunya. Dan semuanya sudah berada di mushola ketika muadzin sudah mengalunkan panggilan adzan.

Sama seperti di ruangan santri wanita. Semuanya melakukan kegiatan yang sama persis di lakukan para santri pria. Mengikuti ritualnya sebuah mata rantai sebagai santri. Mereka berbaris di safnya belakang santri pria yang berjarak sangat menjauh. Ada sket yang membatasi ruangan untuk santri pria dan santri wanita. Sehingga tak mungkinkan para santri pria dan santri wanita berpapasan wajah.

***

Pagi pukul tujuh lewat dua pukul detik.

Jika jiwa itu baik, ia akan melihat sinar pagi dengan penuh semangat, malam sebagai pameran, dan gubuk sebagai istana yang kokoh(‘Aidh bin Abdullah Al Qarni)

Selesai sholat duha Fakhri berjalan menuju ke ruang utama karena bapak kyai Azam menghendaki agar dia mau diberikan amanat kepadanya untuk  memberi materi agama disalah satu sekolah di pusat kota Tasikmalaya,tepatnya di slta 2. Tergesa gesa  dengan berbagai macam pikiran yang berkecamuk di benaknya sangat membuatnya untuk cepat cepat berada di ruangan tersebut.

Sepanjang perjalanan menuju ke ruang utama matanya sibuk berkeliling memperhatikan semua santri yang berada di berbagai sudut. Tetapi tidak untuk jiwanya yang masih terus bertanya tanya amanat apa yang akan diberikan pak kyai terhadapnya. Dan sebelum ia menemukan jawaban atas pertanyaan suara hatinya langkahnya sudah tepat berada  di depan pintu ruang utama yang memang terbuka sedikit.

Sesaat Fakhri mengatur nafasnya dan setelah merasa lebih tenang maka ia segera memberi salam………….

“Assalamualaikum wr wb………..pak Kyai” panggilnya sebelum memasuki ruangan dan setelah mendapati kalau kyai juga sedang menunggunya maka fakhri segera mencium punggung tangan pak kyai. Setelah itu fakhri mendengarkan maksud dan tujuan di suruh menghadap beliau adalah menggantikan ustad  Noorhasan yang tidak bisa memberikan pelajaran agama di sltan 2 tersebut.

Sesaat pikirannya semakin mengembang dengan berjuta keterkejutannya. Yup, ia merasa belum siap untuk memberi materi apalagi berhadapan langsung dengan para siswa dan siswi. Lalu pemikirannya berubah menjadi sebuah arena tuk akhyalannya . Dalam arena tersebut jelas jelas santri fakhri terlihat gugup dan hampir tak bisa berkonsentrasi saat bertatapan mata oleh siswa di ruangan. Tubuhnya bergemetar. Keringat dingin mulai membasah di sekitar leher,telinga serta dahinya……………..getar dan bergetar hingga……………”Nak Fakhri siap kan menggantikan ustad Noorhasan?”pertanyaan yang dituturkan oleh pak Kyai sangat pelan namun karena Fakhri sendiri sedang melamun maka terdengar sangat keras sehingga ia menjawabnya sangat vokal dan mengeras. Membuat pak kyai terkejut namun segera menyalami santri pilihannya.

suatu keburukan yang dianugrahkan kepadamu bisa jadi  membawa kebaikkan dan kemuliaan di akhirat kelak…..sebaliknya kebaikan yang dilimpahkan kepadamu mungkin pada akhirnya membawa keburukan dan malapetaka di akhirat …………semoga Alloh memberikan yang terbaik buat kita agar selamat di dunia dan akhirat……..amien! seru hati kecilnya berbisik dalam kediamannya sendiri.

Setelah selesai. Dan memberi salam. Fakhri kembali berjalan menuju ke ruangannya sendiri. Menyiapkan makalah yang akan diberikan pada siswa sekolah tersebut.

Sesampainya di kamar fakhri segera merebahkan sejenak tubuhnya diatas kasur yang berejajar di lantai ubin.

Keresahan dan kegelisahan jelas jelas sedang ia rasakan.

***

Di sekitar jalan menuju ke padepokan pak kyai azam nampak sebuah kendaraan dari jakarta sedang meluncur ke arah pondokan terebut. Mobil mewah merk Mercedez -Benz E Class E550 warna hitam. Laju kendaraannya sangat kencang…………..menerbangkan sisa sisa dedaunan yang berserakan di sekitar dan pinggir perjalanan. Dan juga genangan kecil yang berada di sisi samping jalanan yang membasah atas sisa air hujan semalam.

Di dalam kendaraan sendiri nampak sang boz sedang membolak balik halaman demi halaman sebuah majalah bisnis dan perekonomian dengan antusias, sesekali ia menerima telphone,kemudian ia teringat bahwa ia harus menelphon pak kyai mengabarkan kalau dirinya sudah hampir sampai ditempatnya.

Beberapa menit kemudian terjadi pengobrolanantara pak kyai dengan  sang bos, yang merupakan donator tetap untuk perkembangan pondok pesantren. Sedangkan sang supir mengelilingi pandangan matanya supaya baik jalan kendaraannya.

***

Setelah menerima telphone dari sang boz maka pak kyai segera memerintahkan para sesepuh serta ketua penyambutan sang boz supaya segera berada di tempatnya masing masing guna menyambut kedatangan sang boz tersebut. Maka segeralah terlihat suasana yang sangat sibuk disana sini. Ustad bancar malah terlihat yang paling emosian saat mendapatkan santri santri yang tak bersemangat. Maka keluarlah semua kata kata yang menyakitkan atas santri yang bermasalah etersebut. Semua hanya terdiam menerima teguran ustad bancar.

Lima menit sebelum kedatangan sang boz semua sudah berada di tempatnya masing masing. Di depan terlihat beberapa santri pria menggunakan stelan gamis serba putih nampak berbaris rapih di dua sisi kanan dan kiri. Lalu santri  rebana juga siap dengan peralatannya. ….Diujung nampak Fakhri sedang berjalan keluar pondok untuk segera berangkat ke kota. Langkahnya terus melangkah dan ia hanya memberikan senyuman pada santri yang menyapa serta meledeknya. Dan ia terus melangkah bertepatan dengan kehadiran mobil sang bos memasuki halaman pondokan. Fakhri menggeser sedikit ke kiri untuk memberi jalan kendaraan tersebut. Kakinya terus melangkah tanpa memperdulikan sang supir yang secara diam diam mengamati sosoknya. Dan sang supir segera berbincang dengan sang  bos.

“Saya pernah kenal dengan santri yang sedang berjalan itu,tuan?”tanyanya

“Yang mana pak usup?”jawab sang boz sambil memandang keseluruh santri yang berada di sisi kanan dan kiri. “Itu yang sedang berjalan keluar pondokan,tuan” jelasnya lagi dan ia menunjuk ke arah santri  fakhri. Namun karena santri yang menjadi objek pembicaraan dua orang tersebut sudah membelakangi mereka maka tak nampaklah wajah fakhri.

Beberapa kali sang supir memperhatikan sosok fakhri lewat kaca spion mobilnya. Rasa keterkejutan atas santri tersebut terus membuatnya berpikirannya. Hingga bayangan sosok fakhri hilang dari pandangannya.

***

Jam sembilan lewat lima menit

Fakhri terlihat sudah bisa mengendalikan keraguannya sendiri. Dengan lugas dan tangkas ia bisa beradaptasi bersama seluruh siswa siswi di sekolah tersebut. Tanpa ragu ia menjabarkan makalah yang memang sudah ditetapkan oleh ustad Noorhasan. Sesekali ia bertanya jawab mengenai materi pelajarannya. Sesekali pula ia bisa mengakrabkan dirinya pada semua penghuni kelas sebelas B.

***

Abu Dzar r.a,berkata:Aku datang kepada Nabi saw,sedang beliau tidur berbaju putih, kemudian aku datang kembali dan beliau sudah terbangun,lalu ia bersabda : tiada seorang hamba yang membaca: Laa illaha illallah kemudian ia mati  atas kalimat itu, melainkan pasti masuk surga. Aku tanya :Meskipun ia telah berzinah dan mencuri, jawab Nabi saw: meskipun ia sudah berzinah dan mencuri. Aku bertanya: mekipun sudah berzinah dan mencuri? Jawab Nabi saw : Meskipun ia sudah berzinah dan mencuri. Aku tanya: Meskipun ia sudah berzinah dan mencuri?  jawab Nabi saw; Meskipun ia sudah berzinah dan mencuri dan mengecewakan hidung  Abu Dzar  (Meskipun mengecewakan  diri abu dzar) (Bukhari Muslim)………..

Kyai Ilham menjabarkan materinya di sebuah ruangan belakang,dekat sungai. Lalu dilanjutkan dengan acara tanya jawab yang berhubungan materi tersebut. Ada beberapa santri yang mengajukan pertanyaan dan ada juga yang hanya mencatat dan mencatat bahkan ada santri yang tertidur.

Sementara di pondok santri wanita juga sedang ada ceramah dari ustadzah Nilam. Nampak beberapa santri terlihat serius mendengarkannya dan ada juga yang sedang berbisik bisik.

Beberapa menit kemudian setelah acara tersebut berakhir anak pak kyai azam berjalan menuju ke sungai bersama beberapa santri wanita lainnya. sepanjang perjalanan terdengar obrolan mengenai berbagai topik masalah. Sesekali diiringi obrolan tentang santri santri pria yang menurut mereka cukup tuk diidolakan. Apalagi saat nama santri fakhri disebut. Terdengarlah tawa serta gurauan yang bikin semuanya tertawa tawa. Terutama santri Ade,ia sangat sumringah membicarakan sosok fakhri terlihat jelas ia sangat menyukainya. Seakan akan sosok fakhri merupakan idolanya. Bahkan dengan terang terangan ia mengubar bahwa ia akan berumah tangga jika santri fakhri melamarnya. Membuat semua santri wnita tersenyum senyum,bajkan ada yang menggoda santri ade. Hanya anak pak kyai azam saja yang sedikit tersenyum.

Sesampainya di tepi sungai semua santri wanita mulai membuat suatu lingkaran kecil,di dekat sungai tersenyum. Semua duduk beelesehan di rerumputan. Mereka membuka buku Meraih cinta Ilahi, penulis Syekh Abdul Qadir al-jailani.

Beberapa menit kemudian semua nampak terlibat dalam adu argumentasi atas bedah buku tersebut. Semuanya sangat antusias untuk mendapatkan jawaban yang bisa dipertanggungjawabkan.

Diam

Pukul sebelas lewat empat detik.

Hingga beberapa detik kemudian  semuanya terperangah tanpa suara. Semuanya termasuk anak pak kyai azam. Sepertinya denyut jantung sedang terhenti sejenak tatkala tanpa mereka hendaki sekelompok santri pria sedang berajalan diujung dari arah selatan. Ada santri Hariez, irfan, Lukman, Dayat serta tak ketinggalan satri Fakhri yang sudah datang dari kota tuk memberi materi disalah satu sekolahan. Meski lelah namun baginya kebersamaan sangatlah berarti. Semua melangkah tanpa menoleh ke arah para santri wanita yang jelas jelas sangat terkejut atas pemandangan yang tak terduga duga oleh mereka. Dan setelah beberapa menit semua seperti terkesima maka saat kesadarannya muncul terdengarlah tawa riang dari para santri wanita. Semuanya saling meledek dan saling menggoda.

Segalanya menjadi benar benar merasakan sesuatu hal yang (mungkin ) menjadi sebuah resapan jiwa mereka sendiri saja.

Sementara itu para santri pria sudah berada di dekat batu besar dan setelah membentuk lingkaran kecil semuanya nampak menyiapkan peralatan untuk membahas makalah yang disuruh oleh ustad bancar,ustad yang sangat tempremental.

Dan sebenarnya masih belum tuntas pembahasan makalah tersebut namun karena adzan zuhur telah berkumandang maka segeralah semua membubarkan diri dan berjalan menuju ke madsjid.

***

Malam pukul delapan

Entah apa yang ada dipikiran fakhri. Tiba tiba saja ia hendak mandi di malam yang sangat dingin,bahkan hujan masih terdengar rintik rintik,diluar.

Tanpa rasa apapun akhirnya fakhri benar benar mandi di malam malam yang mendingin. Tetapi baru ebberapamenit ia mengguyurkan air  ke seluuruh tubuh. Sepertinya ia merasakan sesuatu yang mengegetarkan pikirannya. Entah apa namun selalu saja ia sepertinya tersentak. Bayanmgan itu semakin hendak mewujudkan dirinya dan bahkan pundaknya seperti disentuh oleh bayangan tersebut namun seketika ia membalikkan tubuhnya…………..tiba tiba ia berteriak. Sangat kencang……………namun seketika itu juga ia tersadar saat santri hariezlah yang menyentuh pundaknya.

Beberapa kali fakhri mengatur pernafasannya. Dan setelah ia bisa menguasai emosinya dan mengnormalkan nafasnya ia buru buru mengambil handuk dan melilitkan kesebagian tubuhnya.

“Kamu terlihat ketakutan,fakhri….maaf jika ana membuat antum terkejut~”serunya dengan penuh penyesalan,lalu katanya kemudian lagi:”Apa sebenarnya yang antum takuti?”

Diam

Sesaat fakhri menatap wajah sahabatnya itu sebelum ia berkata. Hariez membalas dengan penuh keinginantahuannya sendiri. “Ana tidak apaapa,riez……….antum tak usah kawatir………….oya,maaf juga sudah membuatmu resah atas sikap ana!”pelan suara fakhri. Hariez menganggukan kepalanya dan tersenyum.

Diberanda depan nampak santri Bagas,santri ikbal sedang berbincang bincang dengan ustad Didien. Entah apa yang sedang diperbincangkan. Hanya terdengar tawa mereka saja yang nyaris menguasai sepinya malam.

tetapi  kemudian ada terdengar sebuah gertakan keras dari arah kamar tidur para santri pria. Semua saling berpandangan dan saling menebak.

Semuanya terdiam untuk mendengarkan apa yang sesungguhnya terjadi di ruang tersebut.

Sementara di dalam ruang tidur  terlihat sosok ustad Bancar yang sedang memarahi santri hariez. Segala bentakan keras ditujukan ke arah santri yang dimata ustad tersebut bermasalah. Di genggaman tangan kirinya sehelai kertas yang berisi tentang curahan hati santri hariez tergenggam dengan erat.

Di hadapannya. Hariez terlihat menundukan kepalanya dalam duduknya di atas kasur yang tergeletak di lantai tak berubin tersebut. Raut wajahnya menggambarkan kesedihan yang teramat dalam. Tidak…..bukan rasa ketakutan pada sosok ustad tersebut yang membuatnya terdiam. Namun sehelai kertas itulah yang menjadi alasannya hingga ia memilih tuk terdiam. Jemarinya dimainkannya. Meski bibirnya bergetar namun ia belum sanggup tuk menjelaskan pada ustad tersebut perihal untuk siapa curahan hatinya ditujukkannya.

Segala gertakan sudah dilampiaskan atas ketidak sukaan ustad tersebut pada hariez membuatnya semakin terlihat sifat aslinya yang sangat keras.

“Kamu pikir disini boleh saling mengirim surat cinta pada sesorang? Apa kamu pikir disini tidak ada batasan batasan tentang apa yang meski dilakukan seorang santri yang ingin belajar ilmu agama!”sentaknya dengan nada keras,

Hariez masih diam!

“Kenapa tak mau jawab! Apa kamu sudah tidak ada alasan untuk mengklarifikasi masalahmu sendiri……..!”

kembali terdiam Harieznya. Hanya terdengar deru nafasnya yang berpautan sangat cepat iramanya.

Mata ustad sudah melotot dengan mimik wajah yang keras namun tetap saja hariez tak mau menjelaskannya……………..sehingga akhirnya ustad tersebut mengkoyak koyakkan kertas tersebut dan merobeknya sampai ke helaian terkecil. Setelah itu dilemparkannya ke atas rambut Hariez,katanya kemudian”Ini suratmu!”

Setelah melakukan hal itu ustad tersebut pergi meninggalkan Hariez sendirian.

Diam!

Beberapa menit kemudian Hariez memunguti serpihan kertas yang terkoyak koyak tersebut. Meski sedih namun ia terus memungutinya. Diujung kelopak matanya mulai terlihat setetes airmata yang hendak menjatuh di pipinya.

Ruang kamar semakin berkabung atas kesedihan yang dialami santri hariez. Tiada siapapun yang bisa membantunya. Sendirian santri hariez hanya bisa menyusun sobekan sobekan kertas tersebut.Bibirnya bergetar bahkan sebagian tubuhnya ikut bergetar. Seperti kilatan petir tertahan tatkala  hujan tak mau menyuruhnya.Bunyi diam seperti bunyi dentumannya.  Ia sendiri tak bisa meneteskan airmatanya hingga berkelanjutan sampai akhirnya satu persatu teman santrinya datang menghiburnya.  Semua mulai membicarakan tingkah laku ustad bancar  yang sudah kelewat  batas.

Jakarta dalam gerimis yang berkepanjangan

Rumah yang sangat besar dengan perkarangan yang sangat luas pula,berjejeran mobil mobil mewah disekitar garasi yang tak berpintu itu. Hanya para karyawan yang bekerja diruma itu yang sesekali terlihat sedang sibuk dengan pekerjaannya masing masing.

Sementara di ruang makan nampak ada perdebatan antara sang ayah dengan anak laki laki satunya itu. Sedang sang bunda hanya bisa terdiam.

“Pokoknya Arland tak suka papah memaksaku untuk datang kesana! ” “Dengar papah,nak”

“Pah…………..” “Papah hanya ingin  mengajakmu berkunjung kesana dan tidak menyuruhmu belajar kesana……………..meski papah mengharap kamu mau………..” “Arlan tidak mau,pah” potongnya cepat sambil memandang wajah mamahnya. Lalu katanya lagi”Arlan tidak mau dipaksa,mah!”

Suasana menjadi sedikit tak ramah.

Diam dalam permainan pendapatnya masing masing. Melihat situasi seperti itu mamahnya segera merelaikannya.Lalu katanya”Kita tak perlu memaksa anak  kita,pah! mungkin ia perlu waktu untuk pergi kesana.” tuturnya lembut sambil memberikan segelas just orange tanpa gula.

“Tapi papah kepengen anak kita mau berkunjung kesana,”jawab papahnya sambilmeneguk just tersebut.’Papah kagak memaksa anak kita belajar kesana……….hanya berkunjung……apa salahnya!”

Tak ada jawaban dari Arland. Selanjutnya ia pamit untuk keluar rumah.”Arland mau ke rumah handoko,”  pamitnya sambil mencium pipi mamah dan papahnya.

Papahnya Arland  menggelengkan kepalanya sambil melirik istri tercintanya

****

“Papah mau ke rumah adik papah. Kamu mau ikut kan,nak?” tanya mamahnya sambil membereskan segala bawaan utnuk keluarga adik papahnya.”Tolong bantu mamah bawakain ke mobil.”sambil memberikan beberapa kantong berisi makanan pada anak satu satunya itu.

“Tapi kita tak bermalam kesana kan,mah”sambutnya sambil menenteng kantong berisi makanan tersebut dan membawanya ke dalam bagasi mobil papahnya.

“Mamah belum tahu,nak. Mamah mah terserah papah saja………………..lagi pula besokkan hari minggu.  Pasti kamu tidak ada acara kemana mana kan?”

“Mah………….”

“Sudah kamu turuti kemauan papahmu kali ini. Lagi pula kita sudah lama tak bersilaturahmi ke keluarga papah kan? Kamu malah sudah enam tahun tidak kesana sana.”

Selanjutnya mereka masuk ke mobil.Dan sebelum pergi Mereka menitip rumah pada semua karyawannya. Dan semenit kemudian mobil segera meluncur keluar dari garasi dan melitas ke jalur jalan perumahannya. Sepanjang perjalanan Arland diam mebisu. Ia sekali sekali memainkan BBnya. Ol fbnya sembari membuat status kebeteannya. Bahkan saat menikmati hidangan makanan di sebuah resto tempat ia sukainya pun Arland tetap saja diam.”Biarkan dia seperti itu,pah?”bujuk mamahnya saat melihat gelagak anaknya seperti itu.

****

Di ruang belajat nampak para santri santri mengikuti pelajaran yang diberikan oleh ustad tamu;isinya sedemikian“Kehidupan adalah anugerah dari Illahi. Anugerah kehidupan memberikan gambaran kebesaranNya buat kita manusia, yang wajib kita syukuri dan hargai. Internet adalah kemudahan buat ummat manusia. Justru itu, memanfaatkan  itu untuk kesejahteraan diri kita dan ummat sejagat. Senantiasalah kita ingat, apa yang kita lakukan akan di pertanggung jawabkan pada kemudian hari. Gunakan sebaik baiknya karunia Alloh swt kepada kita. Halalkan kegunaan akal, hati dan lidah pada perkara yang bakal membawa kita beka kecemerlangan diri kita…….dan selanjutnya……………..selanjutnya yang semua isi ilmu darinya  membuat semua santri mengangguk anggukan kepalanya.

7 Tanggapan to "Sujud yang terkoyak……(buku harian seorang ustad muda)"

Assalamualaikuum,,..
adem rasanya membaca postingan ini,..
makasi ya,,.

Saya datang lagi sobat, seraya memohon maaf lahir batin atas setiap kesalahan kecil maupun besar, baik dari setiap komentar ataupun postingan yang kurang enak dibaca.
Semoga selama puasa di bulan ramadhan kita diberi kesehatan .

salam persohiblogan ^_^

Selamat sore mas …
sudah lama tidak berkunjung …
saya izin copy ceritanya yah … terimakasih banyak …
selamat menjalankan ibadah puasa …

Selamat sore kang,,
met puasa ya,,.

hemm..sebenarnya menarik banget jika setiap pengalaman ditulis dalam catatan..terima kasih sharinnya kawan.

Assalaamu’alaikum wr.wb, nanda Blue…

lama nian tidak bersapa dan tentu sekali membuah rindu sambil mendoakan kesejahteraan dan kesihatan buat nanda di sana. Harapan bunda, Blu selalu sihat, bahagia dan ceria dengan apa yang dihadapi dalam hidup ini.

Selamat menyambut Ramadhan al-Mubarak. Bulan rahmat yang didalamnya penuh dengan maghfirah dan kasih sayang Allah. Laluilah ramadhan dengan hati redha, sabar dan syukur agar ibadah dan amalan kita bisa diganjari Allah dengan melimpahnya.

Maafi bunda anda ada bicara kata melalui tulisan yang bisa menyinggung hati nanda Blue selama kita bersilaturahmi. Mudahan selalu sukses dalam apa yang dikerjakan.

Salam kangen dan mesra dari bunda buat nanda Blue juga keluarga di sana.😀.

assalamu’alaikum…

senantiasa kita di berikan kesehatan & anugerah yang baik di bulan suci ini..

amiinn…:D
postingan ini sangat menarik.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

arsip bluethunderheart

my blue calendar

Juli 2011
S S R K J S M
« Jun   Agu »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Blue Stats

  • 133,731 hits
%d blogger menyukai ini: