My Blue Thunder Heart’s BLOG

Archive for Desember 2010

trilogi terakhir dari 2 cerpen kemaren

Siang disebuah sel penjara

Ruangan dengan sepercik sinar cahaya dari lampu pijar yang menempel di dinding,  diujung dekat jendela bertelari besi  itu seperti meninggalkan bayangan hitam.  Bayangan atas sosok seorang narapidana, yang terhukum seumur hidup atas balasan kesalahannya sendiri, membunuh anak dari kekasihnya tersebut masih terdiam sambil  menumpangkan wajahnya diatas meja berbentuk bundar, tak begitu besar. Hanya deru nafasnya yang berhembusan perlahan lahan seperti menantikan perjalanan sesosok ajal menjemput nyawanya sendiri.

Diam!

Tanpa bersuara. Sampai akhirnya ia mengangkat wajahnya tatkala seorang datang membawakan hidangan makan siang untuknya. Tetapi sosok tersebut tetap tak bersemangat menerimanya. Hidangan tetap dibiarkan tergeletak didepannya. Hanya jemari jemarinya saja yang ia mainkan, hingga akhirnya ia mau menatap wajah laki laki setengah baya itu,  yang duduk disebelahnya.

Tatapan saling berpandang dalam ketidak jelasan maknanya. Hanya kesedihan terlihat digurat wajahnya.

“Kamu masih belum siap untuk bercerita banyak pada bapak,nak?”tanyanya lembut. Seperti pada anaknya sendiri.

Diam.  Tak ada jawaban.

“Bisa kamu ceritakan alasan kamu membunuh anak dari kekasihmu itu?”tanya laki laki  bernama edy kuswantoro pelan.

Diam

“Percuma kalau kamu tak mau bercerita jika pada akhirnya akan kamu bawa alasan tersebut di hadapan para penembak hukum nantinya. Ingat! Dua bulan lagi kamu akan berhadapan dengan regu tembak!” kalimat yang diucapkannya seperti menyentakkan  bathinnya. Hingga kemudian ia mulai mau bercerita tentang sesuatunya.

Sunyi!

Dengus nafas seperti berpacu. Dan sosok narapidana tersebut seperti menempuh perjalanan yang panjang tak berujung tatkala keringat mulai membasahi tubuh sekitar wajah. Jemarinya bergetar.

“A……..ak……..aku tak tahu harus melakukan apalagi, Ajal sepertinya sudah mendekati nyawaku  dan aku harus siap menghadapinya. Lalu selesai………mati!”dengusnya pelan seperti berbisik. Hingga pak tua itu, yang tanpa ia sadari adalah orang yang akan menyabut nyawanya sendiri.

Keduanya saling bertatapan.

Meski keteduhan gelisah membekas disekitar mata sosok tersebut.

“Percuma aku menjelaskan pada setiap orang yang bertanya perihal tersebut,”bisiknya pelan pada hati kecilnya sendiri,katanya lagi”Semuanya akan berakhir pada kematian. Dan itu meski aku terima sendirian.”

Kemudian tangisnya mulai merintih seperti anak kecil kehilangan mainannya sendiri. Airmata sudah rutun perlahan  lahan. Kemudian ucapnya lagi”ku ingin menyusul i…………ibuku sendiri”

Mendengar kalimat terakhir sang bapak tua itu tersentak. Entah kenapa tiba tiba tubuhnya ikut bergetar. Sejenak memang hal sedemikian berlangsung namun sempat membuat sosok tersebut terkejut atas sikap itu. Melihat gelagak yang merisaukan oleh orang didepannya laki laki itu kemudian bangkit dari tempat duduknya dan berdiri, tepat dibelekang sosok tersebut. Tangannya kemudian membelai lengan sosok tersebut.

“Sabar…..dan sebaiknya kamu habiskan makan ini,”serunya. Dan beberapa detik kemudian laki laki tersebut sudah pergi meninggalkan ruangan tersebut. Meninggalkan sosok terpidana mati  tersebut sendirian. Sebelum ia mengunci pintu laki laki itu berkata lagi|”Kamu menyayangi ibumu,nak?” Mendapat jawaban itu sosok tersebut menganggukann kepalanya cepat. Dan ia hendak bertanya sesuatu namun laki laki  tersebut segera mengunci pintu rapat rapat.

Diam dalam seribu bahasa menjelaskan kisah  sebuah pertanyaan kerisauan tersebut

Dua haru menjelang hukuman mati berlangsung

Wajah pasrah sudah teramat melekat di sosok terpidana mati itu. Sepertinya ia sudah merelakan apa yang nanti akan terjadi. Bahkan ia sendiri sudah bisa menerima kenyataan bahwa dua hari lagi nyawanya akan terbang. Terbang menyusul neneknya yang sayang   padanya, lalu menyusul bapaknya yang mati tragis kerana ulahnya yang sering mabuk mabukkan. Serta menyusul ibunya. Ibu yang ia sayangi, yang mati ditangan kakeknya sendiri. Terpidana itu kian mendekat dengan ajaran agama yang ia anut sendiri. Sesekali ia mengikuti pekerjaan yang dilakukan oleh para narapidana dipenjara tersebut.

Ia benar benar sudah ikhlas.

Hari kematiannya

Regu tembak sudah siap ditempatnya. Udara malam yang dingin sedikit menghibur pori pori nyawanya.   Serasa menyegarkan ruang kematiannya. Wajahnya sudah ditutup kain hitam dan ia sendiri sudah diikat disebuah pohon yang hanya ada batang batang tua. Disebuah tempat yang sangat sunyi. Nyawanya sedetik lagi akan terbang melayang. Melayang mendekat nyawa orang orang yang selalu menyayanginya.

Sesaat sang ketua regu tembak berbisik ditelinganya,”Maafkan aku,nak. Maafkan kerana kamu terlibat atas permasalah ini. Aku sangat menyayangi ibunya, ia anak dari cinta pertama antara aku dan wanita itu. Sekali lagi maafkan aku,”bisiknya seperti meminta ampun. Kemudian ia melangkahkan kakinya ke tempat dimana sudah berbaris para regu tembak tersebut. Sesekali ia menghempaskan nafasnya sebelum ada aba aba untuk melaksanakan tembakkannya di mulai.

Kemudian angin datang menerpa alam.

Kemudian suara letusan mulai terdengar.

lalu angin kembali  berhembus bersamaan hembusan nafas atas kematian sang pidana tersebut.

Semua sudah menyelesaikan tugasnya. Dan bersiap siap untuk mengangkat jenazah sang pidana tersebut. namun tiba tiba terdengar suara tembakan. Setelah itu semuanya terdiam tatkala menyaksikan laki laki tua itu menembakkan tubuhnya sendiri. Semuanya segera mendekati. Dan mati!

Keesok harinya

 

Seorang laki laki yang berwajah kusuh serta pakaian yang tak karuan sedang mebaca surat kabar,kalimatnya seperti ini”Seorang anggota regu tembak mati bunuh diri setelah menyelamatkan narapidana,yang ternyata adalah anak dari seseorang yang dicintainya sampai mati. Dan narapidana tersebut menghilang entah kemana setelah ditukar dengan narapidana lainnya saat hukuman mati berlangsung.Dan………dan…………………………….

Laki laki itu tercengang!

 

 

Gombal! itu kalimat pertama yang ingin gue tulis saat sekarang ini ketika mendengar rayuan dari mulut si Toyib, teman sepermainan gue, katanya; gue kayaknya pengin lho jadi pacar gw dech. maukan ? ujarnya tanpa dosa saat sepulang dari rapat dirumah pak RT, saat ia mengantar aku pulang (padahal, saat itu gue tidak meminta agar ia yang mengantar pulang dan padahal niat dan bayangan yg ada di pikiran gue si Anton, anak pak RT 08, dua gang dari rumah gue, yg kuliah di Trisakti jurusan hukum,yang kalaau berangkat kuliah selalu menggunakan mobil bmw-nya, kulit putih dan rambut ikal dengan wajah yg agak sedikit mirip Indra Brugman, yang pemain sinetron itu tuh, tapi……tiba tiba aje justru ia malah pulang bareng bokapnya) Dan mau kagakmau gue terima juga deh ajakkan si Toyib anak kampung sebelah, yang bokapnya supir di keluarga si Indra itu dan kebetulan lagi nyokapnya jadi tukang cuci di keluarga Yuli, tetangga sebelah rumahku. aduh…..piye iki!

“Gue kagak ngerti kenapa gue malah milih lho yang jadi gue demen dan pingin gue pacarin, ya?” katanya tanpa dosanya (sumpah gue sebenarnya ingin muntah dengarnya tapi kalau gue pikir-pikir lagi, gue paling takut jika nanti dia sakit hati terus malah milih jalan pura-pura keserupunan biar gue ketakutan . Malah jadi berabe dan jadi bikin dia malah semakin gencar membombardir rayuannya lagi. Bah….)

“kemarin gue makan kedondong” ujarnya

narsis banget sih lho, baru makan kedondong aje bilang bilang.

“Hi…..ih, bukan begitu tahu?”

“terus maksud lho ape ?” tanyaku

“Kemarin gue makan kedondong……..pacarin gue dong..!

“Lho ?” tanyaku

“Iye gue..gue yang minta lho pacarin. salah? kagak kan. Gue kan udah lame kenal ame lho dan keluarga lho kayaknya suka ame kehadiran gw.Ya,kan ?”

“itu juga karena keluarga gue kasihan kali lihat lho yang kagak punya teman cewek yang secantik gw dan lagi pula cuma lho aja anak penduduk asli yang kagak pernah punya rasa malunya pengen ikut gabung ama anak anak muda di komplek perumahan sini, iya kan ?”

“Beh jangan salah! anak muda sini aja yang kagak gaul”

“Enak aja kagak gaul”

Ya iyalah…..masa ya iya adalah…kagak nyambung kali..udah kembali pada pokok permasalahannya langsung.

“Apa ?”

“ya itu tadi..buah kedondong itu..”

“ape ?”

“ye…gw minta lho pacarin gw..eh maksud gw…gw mau lho jadi pacar gw.. maukan? yayaya..Mau dech..okey ?”

“kagak bisa !”

“ya jangan ngerayain hari jadian kita sekarang!  kapan kapan aja kali.

“Ye..GR! bukan itu maksudku.”

“terus ape ?”

“gue kagak bisa nerima lho tuk jadi pacar gue”

“Emang kenape?”

“karena….”

“karena ape? ape karena gue kagak seganteng cowok yang lho incer itu?”

“bukan?”

“ape karena gue kagak punya mobil, kagak punya kartu credit dari bermacam macam bank, atau karena keluarga gue emang bukan dari turunan orang yang berada? tampang gw yang pas pasan atau…”

“bukan”

“lalu”

…..

….

…. …… …… …

“apa kamu tidak mau berpikir lagi untuk tetap berniat menjadikan gue pacarmu, Yib?”

diam, sunyi namun dinginnya minta ampun, dinginnya ini yg bikin si toyib kagak bisa jawab, susah payah dirinya mencoba menjawab namun tetap saja jusrtu tubuhnya semakin gemetar. Ia diambang antara sadar dan tidak sadar.

“kan lho yang mengantar gue dan ikut menguburkannya dua hari yang lalu……..”

……………………… …………………….. ………………

kaburrrrrrrrrr

(toyib baru sadar kalau ia habis mengantar cewek yg ia taksir itu dua hari yg lalu, yg mati ketabrak mobil di dekat jalan raya rumahnya. Jadi ceritanya si toyib keingetan terus ame cewek itu.)

Tag:

arsip bluethunderheart

my blue calendar

Desember 2010
S S R K J S M
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Blue Stats

  • 140.864 hits