My Blue Thunder Heart’s BLOG

Archive for Oktober 23rd, 2009

Bunyi letusan itu sangat keras terdengar di telinga semua penghuni rumah keluarga sang father. Selongsong peluru dari arah luar pager hampir memecahkan gending telinga. Meski hanya dua kali bunyi itu terdengar namun telah membuat semua anak buah sang father siap siaga. Dengan sergap mereka mencoba membalasnya namun apa daya musuh telah memacu kendaraannya dengan sangat kencang.
Sementara itu Chaterina telah berlari ke dalam rumah dengan perasaan yang tak menentu. Segalanya menjadi sebuah kericuhan sendiri.
Pada saat yang sama sang father segera mengumpulkan anak buahnya ke sebuah ruangan bawah melalui pintu darurat yang terletak di dekat tangga sebelah kolam renang, perkarangan belakang rumah. Semuanya. Termasuk anak lelakinya yang pertama dan yang kedua. Sedang yang lainnya memilih keruang kamar mamahnya tuk menemui adik perempuannya yang menjadi saksi atas letusan yang terjadi di luar perkarangan.
Suasana begitu genting. Sama gentingnya suasana hati Chaterina yang masih saja memeluk mamahnya dan menumpahkan semua kesedihan. menumpahkan segala penak yang membebani pemikirannya sendiri. Tentu saja semua mengetahui perasaan chaterina. Perasaan yang telah terbenam oleh sebuah ego yang hanya di ketahui rahasia sang kekasihnya sehingga sang father tega membunuh kekasihnya di depan mata kami semua. Di depan mata chaterina. Diam! Tak ada sedikitpun ucapan atau kalimat yang keluar dari bibir kami semua. Karena semuanya tahu catherina sedang sedih bercampur kesal.

Sama kesalnya pula keluarga Tuan Alex saat mengetahui kalau salah satu anaknya telah kehilangan nyawanya. Lelaki yang baru saja merenggut rasa cinta tuk pertama kali. Pertama kalinya anaknya yang baru saja pulang membawa gelar sarjana hukum di negara inggris menjalin hubungan hati pada sosok wanita yang menurutnya begitu sempurna. Anaknya tak menyadari tentang perselisihan yang masih terjadi diantara keluarganya dan juga keluarga gadis itu sangatlah parah. William, nama anaknya yang telah tewas itu belum menyadari kalau sang pujaan hatinya itu adalah anak dari musuh nomor satu di keluarganya. Dia tak akan pernah tahu karena dia terlalu lama tinggal di inggris bersama omanya. Dan ia baru menyadarinya saat ia benar benar berhadapan dengan sang father. Dan ia ingin menjelaskannya saat peluru itu telah menekram dadanya. Dan william tewas di hadapan keluarga musuhnya dan juga di depan mata sang kekasih hatinya.
Dengusan Tuan Alex begitu pelan namun terasa menyesakkan bathinnya. Meski kelihatan angkuh tetapi kesedihan itu mulai nampak di raut wajahnya. Dan dia hendak berbalik ke ruang kerjanya saat salah satu anak buahnya datang dan membisikkan sesuatu. Percakapan lewat bisikan itu pun di akhiri dengan anggukan kepala tuan Alex. Dia tak jadi ke ruang kerjanya namun melangkah keluar dan dengan menggunakan mobil kecil perkarangan dia di temani supirnya segera menuju ke perkarangan belakang. Ada danau yang tak begitu besar disana, di kelilingi pagar pagar besi di sekitarnya.
Beberapa menit kemudian dia sudah sampai di danau. Tampak anak anaknya yang lain sudah berada disana ( setelah di beritahu oleh anak buahnya yang lain tadi) Dan di dekat pagar juga nampak anak buahnya sedang di pegang oleh algojonya yang berbadan sangat besar. Tampangnya begitu ketakutan. Raut wajahnya begitu sempurna tuk menjelaskan betapa galaunya perasaannya bercampur dengan ritme jantungnya yang berdetak sangatlah keras dan cepat. Tuan Alex menjelaskan panjang lebar mengenai sosok anak buahnya itu di depan anak anaknya dan juga anak buahnya yang lain. Segalanya menjadi sebuah peraturan yang tak bisa di cegah. Semuanya menjadi buah keputusan yang tak bisa tidak tuk di rubah lagi.
Dan selanjutnya………
Pintu danau itu telah dibuka gembok gemboknya. Rasa tegang dan rasa sejuta ketakutan begitu dekat mendekati semangatnya. Berjuta juta kata mohon ampunan tak bisa di dengar lagi. Semuanya semestinya memang diinginkan oleh Tuan alex.

Pintu telag di gembok dari luar!

Lalu…..permukaan air danau memang masih tampak begitu tenang, sepertinya tak berpenghuni. Beberapa menit kediaman dan rasa sunyi serta berjuta permohonan di atas ketakutan mulai menjalar di seperdetik berikutnya. Semuanya nampak menegang. Hingga akhirnya permukaan itu bergerak..bergerak…….lalu seekor buaya besar muncul ke permukaan. Dan sang korban mulai panik. Dia berusaha meminta pertolongan agar pintu itu segera di buka kembali. Wajahnya sudah pucat. keringat sudah mulai timbul di permukaan wajah, daun telinga serta sekitar tubuhnya bercampur dengan sengatan sinar matahari pagi.Tapi tak ada perubahan. Pintu itu tetap terkunci. Dan sang korban mulai berlari larian serasa memanggil nama nama yang dikenalinya tuk meminta pertolongan. Tetapi tidak ada jawaban….selanjutnya satu persatu mulai nampak…. buaya buaya yang lainnya pun bermunculan dan sepertinya mereka menemukan hari bahagianya karena menerima santapan yang sangat beda. Buaya itu mendekat sang korban yang ketakutan…buaya mengejar saat sang korban berlarian. Hingga akhirnya………….sang korban tak bisa berdaya lagi. Kepasrahan lebih jelas nampak di kepalanya tuk menerima penjemputan nyawanya.

Lalu……….Buaya itu telah menerkam kakinya, buaya yang lainnya pun memangsa bagian tubuh lainnya. Darah dan ceceran bagian bagian tubuh sang korban mulai di serbu oleh buaya buaya yang lainnya.

Hingga tak tersisah. Hancur berserakan.

Kenapa mesti ia yang dijadikan umpan sang buaya? apa hubungannya dengan kejadian di keluarga Alex?

Bersambung

Iklan

Sebuah geprakkan tangan yang sangat keras di atas meja tak membuat anak gadisnya itu beranjak dari tempatnya. Masih berdiri dengan memandang penuh tanya? Dan ia hendak melakukan sesuatu sekehendak hatinya kalau saja mamahnya tak datang dan mengajaknya untuk keluar dari kamar. Hanya bujukan mamahnyalah ia akhirnya mau juga meninggalkan ruangan itu. Sementara sang father hanya bisa memainkan remasan tangannya sendiri dengan segala kekesalan yang kini mulai merajah dikepalanya.
Selanjutnya sebuah teriakan keras membahana di seluruh sudut sudut ruangannya. Haaaaaaaaaaa!

Mendiamkan permasalahan dengan cara berteriak akankah mendapatkah penyelesaian?

****
Malam!
Turun dari mobil BMW warna hitam seseorang yang duduk di belakang kemudi segera membuka bagasi belakang dan mengambil sosok pemuda yang sudah tak bernyawa tersebut kemudian dengan seretan ia lemparkan mayat tersebut ke pagar dekat tempat pembuangan sampah. terburu buru lelaki itu melemparkannya agar tak terlihat seseorang, setelah itu dengan memacu kendaraanya yang kencang ia dan temannya segera meninggalkan rumah yang sangat luas dan mewah itu.

***

Pagi di ruang makan
semua sudah duduk di tempatnya masing masing sambil menunggu sang father. Semuanya! Baik sang istri serta anak anaknya telah menanti sarapan pagi yang biasa di lakukannya itu dengan tak bersuara. Ritme yang mesti di tampilkan di setiap perjamuan perjamuan yang sebenarnya justru menjadi ajang yang tak menyenangkan untuk saat saat sekarang ini. Setelah kejadian kemaren malam. Wajah duka masih terlihat jelas di raut wajah Chaterina. Hanya diamlah yang menjadi santapan yang lezat tuk perasaan hatinya yang berduka itu. Diam! Hingga beberapa menit kemudian sang father datang dan langsung duduk di tempatnya. Tempat yang tak ada yang boleh di tempati oleh siapapun!
Seremoni sarapan itu telah berjalan. Namun tidak untuk gadisnya. Semua memahami perasaan yang sedang di rasakan olehnya tetapi tidak untuk sang father. Dengan deheman yang keras ia mengawasi perilaku anak gadisnya itu.
“Aku duluan! Maaf sebelumnya!” katanya pelan namun pasti untuk menghentikan kebekuan yang telah berlangsung, dan ia hendak bangkit saat sang father menyuruhnya untuk kembali ke tempatnya semula. Semua mata menatapnya! Semuanya menoleh ke arah Chaterina dengan harapan agar ia mau menuruti kemauan papahnya.
Helusan sang mamah di lengan anak gadisnya ternyata tak meluluhkan keegoaan hati anaknya. Chaterina bangkit dan berdiri di belakang kursinya serasa memegangnya.
“Aku ada acara,Pah!”
Diam.
Di hembuskannya sedikit nafasnya untuk kemudian di hempaskannya kembali, lalu selanjutnya.”Aku ada acara dengan teman teman,pah? Mah?”
“Chatr…” mamahnya hendak membujuknya namun keburu di potong suara deheman sang father.
…..
Hanya kebisuanlah yang terdengar saat nyanyian perasaan itu telah meninggi
Selanjutnya dengan mengedipkan kedua matanya maka datanglah anak buahnya mendekat anak gadisnya. Dan dengan sekali tepukan maka berarti……….
“Pah…. chaterina benar benar ada acara pah dengan teman teman.pah……….” susah payah ia teriak tak akan bisa mengubah sikap sang father. Kedua anak buahnya telah mengapit kedua tangan catherina keluar ruang makan dan membawanya keluar rumah.
Semuanya terdiam. Tak ada satupun yang bisa membela dan membantu adiknya itu. Hanya dengusan yang penuh kegelisahaan yang di rasakan oleh mereka.
Selanjutnya sebuah letusan dari senapan api terdengar.
Door! Door!

Apa yang terjadi dengan anak gadisnya? apakah keegoisan menjadi alat yang tepat untuk menyingkirkan semua yang telah membantah segala perintah sang father?

bersambung


arsip bluethunderheart

my blue calendar

Oktober 2009
S S R K J S M
« Sep   Nov »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Blue Stats

  • 139.450 hits
Iklan