My Blue Thunder Heart’s BLOG

Archive for Desember 4th, 2008

Bagian kelima

Berhari hari sudah hanz menemani kekasihnya yang masih belum sadarkan diri. Menamani kekasih hati yang tampak terbalut perban di sekitar kepala, leher dan seluruh tubuhnya. Kesedihan kian menunjang kedatangan emosi di akal pikirannya pada si pembuat ulah kekasihnya. Emosi yang tinggi menjentak lelah di balur kulit pengharapannya. Siang,malam bahkan pulang kuliah maupun saat bolos ia selalu memberikan waktunya hanya untuk kekasihnya.¬† Meski terkadang ada sanak saudara clara yang menamaninya namun ia tak perduli karena ia ingin selalu ada di dekat clara. Di biarkannya keluarganya yang prihatin dengan kondisi dirinya, di biarkannya semua rencana untuk perlombaan basket antar perguruan tinggi tak terprogam dan di biarkannya sahabat sejatinya bermain dan tak bersama sama lagi. Waktunya hanya untuk kekasihnya. Waktunya hanyalah di habiskan di rumah sakit ini. Dan waktunya………..

“Tapi kamu meski terus melangsungkan segala cita citamu sebagai mahasiswa,Hanz?” sapa Darwin saat menemani Hanz di sore ini.

Hans diam Dan menatap senduh pada sosok kekasihnya itu.

Bilakah semesta pencapaian kesedihan kita ini kan tertampak di wajah nan penuh duka?

Segala duka berantak di jantung hati Hanz, menelan peluh ludah emosinya sendiri. segalanya terdiam diantara kokohnya di sudut sudut ruangan. Sampai akhirnya Topan datang dengan membawa sekeranjang buah buahan serta seikat mawar merah. Dan segalanya menjadi sebuah arena penuh kebencian di hati Hanz dan juga Topan. Ia telah menaruh semua bawaannya diatas rak kecil dekat Darwin berdiri. Tatapannya menusuk tajam pada sosok gadis yang menjadi impian hatinya. Duka yang berlapis dendam telah menikam tubuhnya yang kokoh berwibawa.

Dalam emosi terkadang menyisahkan sebuah pertanyaan yang enggan di tolaknya. Namun akankah emosi harus hadir dalam kedukaan ini.

Dan selanjutnya keributan mulai terjadi. Dalam rasa curiga mereka saling menghantam di pertikaian tersebut. Darwin membela Hanz namun dia malah terkena bolgeman tangan Topan yang keras itu. Ia jatuh di lantai. merintih perih di wajahnya. Sedang Hanz terus berusaha memberi pelajaran pada Topan. Begitupun Topan ia juga menyerang Hanz lewat tendangan, terkaman serta tonjokkan. Keduanya tertikam emosi penuh dendam. Tak di hiraukan darah yang mulai mengucur di pelipis matanya, di biarkan hidungnya yang mengalirkan darah segar serta cakaran di sebagian tangan dan wajah mereka. Tak di hiraukan kalau di sudut dekat mereka ada sang gadis sedang meringkuk dalam pencapaian antara hidup dan matinya. Segalanya terhenti saat seorang perawat datang dan mengusik tegas atas ulah mereka. Cacian maki pun terlontar dari perawat tersebut hingga mereka berdua berhenti. Hanz serta Topan merapihkan pakaiannya yang sontak berantakan akibat pertikaian tersebut. Selanjutnya Topan pergi meninggalkan ruangan dengan menyisahkan kesan ancaman di jemari tengah kanannya. Hanz diam.

Akhirnya hanz dan Darwin keluar ruangan sebantar. Mencari makanan serta sekedar melonggarkan pernafasannya yang sedari tadi melonjak naik. Di bangku dekat tamanlah akhirnya hanz mendaratkan pantatnya. Darwin berusaha menenangkan hati sahabatnya itu dan selanjutnya ia pergi mencari makanan untuk mereka berdua. Ia meninggalkan hanz sendirian di bangku taman. Membiarkan Hans menghapus sisa sisa pertikaian tadi. Sendirian

Terkadang sendiri terasa lebih bijaksana untuk menenangkan emosi kita.

Beberapa menit kemudian darwin datang dengan membawa makanan ringan untuk sahabatnya, sepotong roti berisi sosis serta  segelas lemon tea di berikan padanya.

****

Penyelesaian di ujung penyesalan

Darwin sendiri di ruang teras kamarnya. Memandang malam yang telah sempurna meletakkan kain kegelapannya yang semakin pekat hitamnya. Hanya sinar dari bintang nan jauh terlintas sekedarnya disana. Dan Darwin selalu menyukainya. Malam nan sunyi. Malam yang pekat. Malam yang selalu membuatnya terpaku diam. Tak di hiraukan ajakan mamahnya serta papahnya yang hendak mencari makan di luar. Tak di hiraukannya seruan pembantunya yang menawarkan makan malamnya. Semua tak berarti. Karena ada sesuatu yang mesti ia nikmati di saat malam malam seperti sekarang ini.

Beberapa waktu kemudian ia turun dari terasnya menuju garasi. Ia masuk kedalam sebelumnya ia minta pada penjaga rumahnya untuk membuka pintu pagar. Ia nyalakan mesin mobil untuk selanjutnya melajuhkan kendaraannya ke jalan raya. Menikmati susana malam.

****

Di sudut Ruangan salah satu Rumah sakit nampak banyak tamu di ruangan Clara, ada Hanz serta keluarga clara sendiri dan beberapa teman teman campusnya. Dan Hanz menikmati persahabatan teman temannya yang datang membesuk Clara. Beberapa lama kemudian semuanya pamit dan hanya Hanz sendiri disana. Pintu telah tertutup kembali. Dan Hanz juga kembali duduk di bangku berhadapan dengan clara. Kesedihan kembali datang dan butiran butiran keringat mulai nampak menghiasi wajah tampannya. Tepat saat ia hendak membasuh keringat seseorang telah menawarkan sapu tanganya. Dan Hanz menerimanya dengan tak menoleh ke arah orang yang menawarkannya itu. Ia basuh keringat di wajah, hidung dan mulutnya dengan saputangan tersebut. Ia tersentak saat tanpa di sadari bola mata Clara mulai bergerak….bergerak………………dan mulai terbuka perlahan lahan. Dan ia hendak berlari menemui perawat saat tiba tiba kepalanya terasa berat. Pandangannya mulai rabun dan terkasat bayang bayang yang tak jelas fokusnya. Dan Hanz………………

bersambung


arsip bluethunderheart

my blue calendar

Desember 2008
S S R K J S M
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Blue Stats

  • 141.192 hits