Posted by: bluethunderheart on: 11 Maret 2011
Sejenak maya seakan terdiam
Seperti hendak menjemput sang maut yang datang dengan tabir yang bergema, penegas isyarat, penunjang kehendak. Bibir merah yang ranum sang penghuni bumi tiada pernah memudar. Meski lidah telah membasah perih. Meski maut sedang berterbangan diatas maya impian impiannya. Melumat kehendak tuk menerimanya. Namun sang bibir merah delima itu tetap tertidur dengan pulasnya, tanpa menyadari sang maut yang menatap kaku pada sosoknya. Mengimaskan sayap sayap kekuatannya untuk mendekat pada sosoknya.
Dan sang maut sejenak terdiam! Membisu tanpa mengenduskan nafasnya yang mulai terasa sesak atas lukisan kelakuan sang pemilik bibir merah delima yang ranum tersebut, mendesis penuh kegelisahan hingga tanpa di sadari ia menoleh tepat sang tokoh terbangun dari impiannya yang berlanjut sempit. Terpanalah! Terpukaulah dalam kekakuan sang bibir merahnya. Berseru tanpa suara.
“Bangunlah dan segeralah kau tinggalkan impian impianmu yang berlangsung penuh rasa noda dunia. Akulah sang maut yang hendak menjemputmu. Akulah sang maut yang terlalu gelisah melihat polah tingkahmu di hari harinya kemaren. Tak ada lagi sisa harimu untuk menjanjikan kebajikan Keserahkaan, keculasan serta ketiada adilan telah begitu erat dalam polah tingkahmu dibumi. Tak ada lagi sepenggal urusan yang belum kamu selesaikan disini. Segerahlah bangkit dari mimpi mimpi burukmu. dan terbanglah bersama ku dengan sayap sayapku yang sedikit patah atas ulahmu. Akulah sang kematian abadimu,saat ini!
Dan sebelum segalanya berterbangan sang pemilik bibir merah delima tersebut mulai tersadar dan berteriak penuh kegelisahaan. Air keringatnya tumpah disekujur tubuhnya. Membasah dengan penuh ketakutan yang berlebih atas apa yang telah ia lakukan selama ini di bumi yang belum jelas sampai kapan berakhir.
Dan pemilik bibir merah delima tersebut terdiam diatas kasurnya dengan penuh kecemasan akan maut yang menjemputnya.
Siapkah jika maut menjemput kita ,kawan?
Maut kapan menjemput. Tak peduli kita sudah siap atau belum, untuk itu sebaiknya kita siapkan sejak sekarang, gmn?
tak perlu dijemput…
pada saatnya akan tiba juga…
pasti datang kematian itu.. hanya sudah sap dan cukupkah bekal untuk nanti?
narasi tentang maut dengan nuansa yang berbeda.. nice article. makasih kunjungannya ya
wew.. lain dari yang lain nih…. cukup unik
salam kenal blue
comment yg tadi masuk engga ya 8-|
kalo ditanya siap atau nggak… sepertinya belum siap…
tapikan… harusnya siap nggak siap harus siap yah
salam hangat blue..
Wah.., aku tak mampu komentar nih kali ini… *tercekat*
Very nice post…
Kunjungan balik, Blue.
Maut datangnya bagai pencuri malam hari, tak ada siapa pun yang tahu. Jadi, selalu berjaga-jaga dan bersiap untuk menyambutnya (agaknya) hal yang penting tertanam dalam benak diri.
Salam kekerabatan.
Ngeri om…. ![]()
mau ndak mau harus siap….. Tapi ya siaga… knp kok harus bibir merah delima, terlalu sexy menurut saya.. hha
belum siaap blue, coz belom merit nih
Dosa – dosaku……. tak ter..hi..tung , bagai debu..!!!
siap ga siap kita harus siap, maka dari itu mempersiapkan lebih baik untuk bekal sebelum dijemput nantinya
Sukses Slalu!
Belum Mas, masih bayak yang kurang, masih belum puas… he
Moga khusnul khotimah semuanya…
wah aku masih belum siap, belum banyak bekal u/ menghadapNya
Siap tidak siap …
dia pasti datang…
salam superhangat
bertobat dan mohon ampun karena masih penuh dengan noda kepadaNYa…
maut bisa kapan pun menjemput,, tak kenal usia, waktu, jabatan, ketenaran dll.. sudah siapkah kita dgn bekal nanti jika maut menjemput kita????????????.
Apakah seorang manusia akan berubah 180 derajat bila mengetahui maut akan menjemputnya ?!
semangat..!
kita semua tau..
bahwa ajal kita slalu di bawa serta
jika waktunya di ambil..
ikhlas-kanlah.. ;b
meski tak dijemput, dia akan menjemput kita juga blue
inipun bisa menjadi inspirasi untuk puisi senduku, blue.. jumpa lagi
kalau saya masih menyiapkan strategi kematian nanti mas… he..he…
Masih banyak yang harus kupersiapkan untuk menghadapi ajal ini karena masih banyak begitu khilaf dan salah yg sering dilakukan
sobat ku
makasih ya atas postingnya
sangat bermanfaat,,
kunjungi jg bahan bacaan saya :
jurnal
ekonomi andalas
Huhu… Blue… katanya sakaratul maut itu saakkiiiiittt banget loh…
21 Juni 2010 pada 8:01 pm
aku siap blue… jika maut menjemput ku kapan saja…..
21 Juni 2010 pada 8:03 pm
hey y Alloh..apa cabar yangputri
lama nian engkau bersandar di kediamanmu,disana
senanglah pula rasanya blue menerima sapamu tersebut
Kamu,aku dan kita smeua pastilah meski siapkan|?
semoga sehat selaluy yangputri,disana|(karna blue tak mengetahui tempat tinggalmu…ehhehe|)