Posted by: bluethunderheart on: 11 Maret 2011
Sejenak maya seakan terdiam Seperti hendak menjemput sang maut yang datang dengan tabir yang bergema, penegas isyarat, penunjang kehendak. Bibir merah yang ranum sang penghuni bumi tiada pernah memudar. Meski lidah telah membasah perih. Meski maut sedang berterbangan diatas maya impian impiannya. Melumat kehendak tuk menerimanya. Namun sang bibir merah delima itu tetap tertidur dengan [...]
Komentar Terakhir