Posted by: bluethunderheart on: 14 Agustus 2010
Tolong….
Jangan kau bilang aku ini pelacur yang tidak tahu diri jika pada akhirnya aku sendirilah yang berbicara pada para reporter tv tentang siapa dan mengapa aku menjadi seperti sekarang ini. Tolong! jangan salah mengerti akan semua yang ku inginkan ini hanyalah masalah uang dan ketenaran semata saja. Semua itu salah! Aku Deborah wanita berusia delapan belas tahun saat ini saat aku terdampar di perumahan bordir di sudut timur jakarta, yang selalu mengenyangkan perutku dengan hasil meniduri laki laki hidung belang dan suapan yang terakhir dalam hidupku adalah juga hasil memburuh uang untuk aku makan ini seperti seperti bakso yang tengah kau sajikan. terasa hambar apabila di makan tanpa sambal, tanpa mericca juga tanpa daun seledri. Aku Deborah yang kini tengah asyik menjadi pelacur terdepan yang sedang menjadi bunga penyedap angin malam malamnya yang di cari oleh para sang hidung belang. Panggil namaku deborah. Pelacur kelas kakap sekarang sekarang ini. Itu namaku dan inilah kisahku! Kisah yang diawali oleh terjepitnya asa diantara batas batas ketidak mampuan seorang wanita yang lemah pada awalnya . Wanita yang sangat muda memang aku ini untuk menjadi seorang pelacur. ya, seorang pelacur yang bibir merahya masih menempel lipstik rasa kecut para pengayom kebejatan sang malam yang bercampur bau dari sang naga naga malam yang selalu ingin mendekap dan merombak ambikkan buah dadaku. Aku yang terus saja menjadi gunjingan para lelaki bejat lelaki yang tidak pernah mau tahu betapa susahnya menjaga buah ini agar tak terjamah.
Sekali lagi jangan bilang aku ini pelacur yang hanya mementingkan dirinya sendiri jika pada akhirnya aku terus mengendus dalam rambu yang tak terbatas oleh tradisi mengasihi. Tetapi sudahlah! itu tergantung penilain kalian semua. Aku deborah pelacur yang tengah mabuk kegemilangan harta dan kenikmatan semata Semua itu hanya desiran angin saja yang kuhirup di semesta bayang bayang semu. Aku tak akan pernah pergi untuk menjamah wajah wajah cinta sang mentari pagi ataupun kesahduan sang senja hari. Tidak! karena aku hanyalah ilusi berbibir merah yang nampak merah merona saat menikam lembaran demi lembaran uang. Ya uang! uanglah yang membutakan mata bathinku sehingga aku dapat berteduh di agenda maksiatan. Hanyalah karena uanglah aku masih disini berbaring pada lelaki lelaki yang saat ini tengah meniduriku tanpa asa kenikmatan hasratku. Sama seperti yang pernah di lakukan oleh ayahku beberapa tahun yang lalu saat aku tengah mekar mekarnya, saat aku di landa keceriaan masa remaja, saat aku belum pernah mengenal apa dan untuk apa bersetubuh itu. Ayahku..dialah lelaki yang pertama kali meniduriku dengan tanpa melihat siapa yang tengah ia tiduri, tanpa ia mau tahu kalau bunga yang sedang merekah itu adalah anaknya sendiri. seorang remaja yang tengah pulang sekolah saat sang ular menjalarkan lidah kenafuannya serta melilit, menerkam erat penuh peluh keringat sang bunga yang menjerit jerit kesakitan. Ya. dialah ayahku ayah yang di landa kesepian semenjak di tinggal pergi istrinya. dialah lelaki yang…………….
“Deborah….tuan yayah menunggumu di kamar nomor 234.Cepat!” seruan sang mucikariku memanggilku dan dengan terpaksa aku sudahi semua wawancara dengan para pengukil gosip serta masalah orang lain. Aku tinggalkan wajah wajah yang seakan merespon semua perkataanku itu untuk segera menuju keruang dalam romah bordil. “Aku memang pelacur…………tapi nanti selama puasa aku berhenti sejenak” bisikku pada seseorang wartawan yang enggan melihat aku pergi.
{ akankah bunga bunga itu terus menerus di renggut sari madunya oleh sang pemiliknya sendiri? sampai kapan?)
wwwoowww, kisah yang ruar biasa. ini tidak hanya terjadi di kontrakan bordirian, tapi ada di mana-mana. tapi bulan puasa deborah puasa, mungkin cuma deborah yang gak butuh dana besar tk mdik lebaran atau borong pakaian lebaran…………
Wah,,, satu lagi kisah blue yg menurut saya bagian dari kekejaman dunia…
Apapun itu, kisah di atas, sudah menjadi realistis dikalangan masyarakat kita,,, Dulu, kalau ada perempuan dan laki-laki berpegang tangan tnpa ikatan,,, maka akan jadi potret yang buruk,,, hari,,, kisah2 yg tidak rasionalpun sudah biasa terjadi…
Ada anak berhubungan intim dengan ibunya, ada ayah dengan anak permpuannya, ada kakek2 perkosa balita, ada mertua berselingkuh dengan menantunya… alhasil…
Setidaknya Deborah masih menghormati bulan Ramadhan… Great Story…
Kisahnya sangat mengharukan. ENTahlah siapa yg salah… ![]()
Salam hangat kembali blue.
Kehidupan seperti yang dialami Debora memang sebuah dilema, kenapa penjelasan seorang debora hampir dimiliki oleh Debora-debora lainnya ya ? saya pernah menelisik hal yang sama kenapa ia melakukan pekerjaan itu, jawabnya tidak jauh beda, Pertama karena diperkosa oleh Pamannya, kemudian demi ekonomi.
Semoga kau cepat bertobat wahai Deborah….. Kasian jg, diajarin Bapaknya kalo kyk gt… weleh….. Bejat sekali…
dari judul aja bikin alis terangkat miris, abis baca makin miris, di bulan puasa ini semoga kita mendapat pencerahan
Kejamnya Dunia. Tapi itulah fakta yang terjadi sekarang ini. Semoga Deborah bisa kembali ke jalan Nya.
semoga lekas kembali ke jalan yang lebih baik
Ah, Deborah….
*Saya selalu kurang sreg dengan lokalisasi
kalau bulan ramdhan berhenti setelah ramadhan lanjut lagi donk,,, percuma saja tuh…
sayangnya masih banyak orang-orang seperti itu
gimana sih biar nggak banyak yang melacur,aku yakin penyebab utama nya karena masalah ekonomi,coba deh dari kecil anak2 kita di ajari ngeblog,mungkin aja pikiran nya bisa lebih terbuka
tolong jangan tiduri aku
aku tak mau ditiduri lelaki
karena aku juga lelaki
hehehe
salam akrab dari burung hantu
http://blog.beswandjarum.com/denus
untung cuma Fiksi ya Blue…. gawat klo beneran biarpun kadang pas liat berita ada juga yg beneran……..
gmn ya….. klo udah urusan perut susah juga nie.. mau nyela gak mungkin juga… mau membenarkan ya emank salah perbuatannya hhe….
met weekend aja deh Blue hhe….
“Janganlah berhenti sesaat melacur pelacurku, apalagi di bulan ramadhan ini saja. Jangan! Berhentilah melacur untuk selamanya, karena usiamu masih sangat muda. Masih banyak peluang baik yang dapat kaupetik untuk keberlangsungan hidupmu,” kata seorang guru yang juga hidung belang . Hahahaha…..
Salam kekerabatan.
Hiks… kasihan banget… ![]()
Semoga Ramadhan kali ini membuatnya kembali menemukan kebaikan…
Salam hangat untuk Blue…
kisahnya mantaf..bisa dijadikan film lepas.hehee
so sad banget dah..kejam banget dah dunia
tp semoga dia bisa segera kembali ke jalan yg benar..
masa lalu bukan lah untuk terus disesali, melainkan menjadi motivator kita untuk menjadi lbh baik..
prosa yang menarik cerminan kehidupan nyata…terus berkarya Blue
sangat menggugah hati
itulah kehidupan dan ngga ada pilihan
namun pada saatnya mereka selalu menemukan jalan terbaik buat anak dan ia sendiri tentunya
ketawaqalan slalu berada pada kebahagiaan..
nice post ;p
jd awalnya gara2 ayahnya sendiri?
kasian..
Selamat menunaikan ibadah puasa. like this mas..
maaf Anas baru berkunjung setelah vacum ngeblog
Ceriteranya menarik sekali Blue….
waa… kisahnya mengharu biru nee
Tolong ! saya mau ngontrak kamu tapi rate harga kamu sekarang terlalu mahal untuk uang saku-ku.
Tolong ! jangan bilang saya hidung belang. Saya hanya ingin menghidupi kamu.
Tolong ! Tolong berhenti dari pekerjaan mu dan jadilah istriku.
*hanya fiksi*
Ini bakal jadi novel? Ada lanjutannya?
14 Agustus 2010 pada 2:56 pm
dikontrak dulu Room I nya