Posted by: bluethunderheart on: 4 November 2009
Aku bangga padamu,Yah!
Bangga yang bukan sekedar tuk memuji dan mengharapkan banyak welas asih dari semua masyarakat di sekitar rumah kita. Aku yakin,ayah pun tak ingin memiiki asa seperti sedemikian itu karena aku,anaknya, selalu bisa meyakinkan bahwa ayah akan tetap memegang pada sebuah kebenaran. Kebenaran yang semakin hari semakin sulit untuk di terima dengan akal sehat. Kebenaran yang selaksa jauh sangat penjabarannya. Padahal hal sedemikianlah akan selalu berada di jiwa jiwa yang memiliki moral kebenaran yang suci. Dan semuanya itu pastilah ada dalam jiwa ayahku yang saat ini sedang mendramasasikan sebuah pentas yang belum ada titik akhirnya. Sebuah drama yang sangat kontras dengan para penonton setia ketidak adilannya. Ayah sebagai tokoh utama yang sangat konkrit actingnya. Real dan benar benar tanpa paksaan. Karena dalam jiwa ayah tertanam sebuah kebenaran.
Ach! Aku selalu bangga pada ayahku………….
Meski sekarang masih berada dalam lakon drama ketidak adilannya ayahku selalu memiiki motivasi untuk menyelesaikan pertunjukkannya.Tanpa ada paksaan serta sisipan salam dari para pelakon pelakon lainnya.Para pelakon yang seakan akan memiliki jiwa reformasi propesi pelakonnya. Yang merasa bahwa momentum untuk kebenaran itu tak semudah seperti yang ada di pikiran ayahku. Memang ayahku tak sedikitpun mendalami arti kerdilasiasi serta jiwa kriminalisasi seperti yang hendak di tampilkan oleh banyak para pelakon dalam pentas drama menuju kebenaran tersebut. Meski ayah bukan pelakon yang baik dan sangat menjiwai pementasan tersebut namun aku selalu merasa bahwa aku meski bangga akan ayahku yang tak memiliki jiwa mafia peradilan di pentas instusi penegak hukum pementasan tersebut.
Dan aku bangga padamu,ayah!
Dunia ini penuh sandiwara……..ceritanya mudah di terka
kisah mahabrata atau tragedi dari yunani……….mengapa kita bersandiwara
Mengapa kita bersandiwara….?
heheheh…
Aku juga bangga sama Ayahanda saya Blue, beliau dengan cangkul di pundak, menapaki jalan menuju sawah tanpa sandal… dan senyum sumringah di bibirnya… Yeahhh He is my Dad..
Saya kasih Foto yang ini buat di jabarin mau gak blue?
http://banditpemoto.blogspot.com/2009/11/sejuknya-tetesan-embun.html
Silahkan Blue…
Salam Sahabat…
Sore Blue ..
semoga ayah blue tetap pd prinsipnya yaaa
ini cerita real atau hanya kiasan ya..?
Salam Blue..
mengapa kita bersandiwara?
dunia emang panggung sandiwara blue, dan kitalah yg melakoninya, salam untuk ayahanda blue
inilah dunia,
seringkali kita nggak bisa membedakan mana yang real dan mana yang semu
salam hangat mas..
Assalamu’alaikum,
Blue, apa kabar, saya mau mengundang Blue, untuk mengunjungi blog baru saya (blog hadiah, dari seorang teman Blogger kita), – (Dewi Yana, http://jalandakwahbersama.wordpress.com)
salut sama orang-orang yang takut Tuhannya di masa ketidakjelasan mana yang benar dan yang salah seperti sekarang ini.
Salutku untuk ayahmu, bro
waaaawww… memang terkadang manusia selalu minta lebih…
Padahal sudah dikasih banyak….
haha…
Andaikan cerita itu sekedar kiasan
ataupun sebuah kenyataan
tulisan di atas mencerminkan keta’dziman
seorang anak pada anaknya
mungkin itulah blue
semoga tabah selallu
menjadi ayah adalah sesuatu yang membanggakan…
saya juga bangga dengan ayah…
memang kebenaran harus di singkap
mampir k blog kami
Ya , sangat menarik mas blue,
Semua orang adalah seniman, setiap tempat adalah panggung.
Seperti halnya dipanggung sandiwara, jika kita dipanggung kehidupan kita sendiri terjadi pelanggaran2 yang kita lakukan, jika kita tidak bisa menghayati peran yang kita tulis sendiri, itu artinya kita selalu berpura-pura dengan memakai topeng dalam kehidupan.
Dengan kata lain, kita berperilaku dan bertindak tidak sesuai dengan skenario yang dibuat, tentu kita bisa terdepak keluar dari panggung kehidupan kita sendiri.
Thanks atas kunjungannya mas, salam sejahtera
berani karena benar,,jangan berani karena ada uang
sandiwara yang sampai membuat orang mual dan muak
Hadir lagi shobat apa kabar salam damai shobat
ku hadir disini menyapamu kembali sobat…kata2 yang indah
iya..bener2.. hidup emang penuh sandiwara.
saya berharap jd penonton, apa daya tetep aja suruh jd pemainnya.
Kadang saya tertegun kalau membaca artikel artikel disini….. sungguh menggugah…..
Kadang kala saya suka tertegun membaca artikel artikel di blog ini…….
Selamat pagi sobat baru datang berkungjung ni
Blue, setiap ayah punya prinsip yang meski kita merasa tak seiring sejalan dengan pemikirannya, suatu hari kita menjadikannya pembenaran. Senang sekali bangga pada ayahnya
Anak manapun pasti akan merasa bangga terhadap seorang ayah yang memegang teguh prinsip di dalam hidupnya, meski begitu banyaknya godaan yang akan menghampiri. Namun keteguhan akan prinsip akan membawa pelakunya pada ketenangan hidup.
tak ada yang perlu disandiwarakan untuk suatu kebenaran…
tak ada yang disandiwarakan ketika kita jujur pada diri sendiri…
Ya, sebagai anak, kamu harus bangga memiliki seorang ayah yang sangat memegang teguh prinsip, Blue. Kebenaran, bagaimana pun harus tetap diperjuangkan, sampai titik darah penghabisan.
Suau saat, kebenaran tetap menemukan momentumnya yang sempurna! Lihatlah bagaimana kisah Socrates yang rela mati demi sebuah keyakinan akan kebenaran.
Salam akrab, Blue…
Salam kenal, Blue.
memperjuangkan kebenaran, tidak semudah spt kisah2 di sinetron. jalan tidak selalu mulus.
dan jika kebenaran terus dipegang, cahayanya akan selalu menerangi jalan. tidak hanya bagi diri sendiri, tetapi jg bagi banyak orang yg terinspirasi.
4 November 2009 pada 12:49 pm
jadikan kebenaran sebagai prioritas,…
salam kenal..